Evolusi Itsbat Kaum Muhammadiyah



Kyai Ahmad Dahlan dan Kyai hasyim Asy’ari itu sekawan, sama-sama menuntut ilmu agama di Mekkah. Sama-sama ahli hadits dan fiqih. Saat hendak pulang ke tanah air, keduanya membuat kesepakatan menyebarkan Islam menurut skill dan lingkungan masing-masing. Kyai Dahlan berdakwah di perkotaan, karena beliau berasal dari kuto Ngayokyokarto (Jogjakarta), sedangkan Kyai Hasyim memilih pendidikan pesantren, karena Beliau berasal dari deso, Jombang. Kaduanya membekali anak bangsa dengan pendidikan dan agama. Kyai Dahlan mendirikan Muhammadiyah (MU) dan kyai Hasyim mendirikan Nahdlatul Ulama’ (NU). Saat beliau-beliau masih hidup, praktik ibadah antara MU dan NU relatif sama. Contoh :
1. Sholat Tarawih
Antara Kyai Dahlan dan Kyai Hasyim sama-sama melakukan sholat tarawih 20 rokaat. Kyai Dahlan disebut-sebut sebagai imam sholat di Masjid Syuhada Yogyakarta.
2. Talqin mayit di kuburan, bahkan ziarah kubur dan kirim do’a(Yasinan dan Tahlilan).
3. Baca Qunut Subuh
4. Sama-sama gemar bersholawat (Diba’an)
5. Dua kali khutbah dalam Sholat Ied
6. Tiga kali takbir “Allahu Akbar”, dalam takbiran.
7. Itsbat Hilal, sama-sama pakai rukyat.
Semua amaliah tersebut berjalan dan bertahan puluhan tahun. Semuanya tertulis dalam kitab “Fikih Muhammadiyah” yang terdiri dari 3 jilid, diterbitkan oleh Muhammadiyah Bagian Taman Pustaka, Yogyakarta, sekitar tahun 1343 H. Namun ketika Muhammadiyah membentuk Majlis tarjih, dari sini mulai ada perbedaan praktik ibadah yang “harus beda” dengan pendahulunya. Dan tentu berbeda dengan NU. Perkara dalil akan dicari belakangan.
Disinyalir, praktik beda tersebut lebih dipengaruhi politik daripada kesohihan hujjah dan fadhilah amaliyah. Tentang dalil yang dicari-cari secara ngawur akan berefek pada praktik ibadahnya. Contohnya ketika Majlis Tarjih memfatwakan Sholat tarawih 11 rokaat, mari kita lihat praktiknya. Awalnya, dengan komposisi :

4, 4, 3 (empat rokaat satu salam, empat rokaat satu salam) ini untuk tarawih. Dan tiga rokaat untuk witir (model Imam Hanafi), sementara NU dua-dua semua dan satu witir (model Imam Syafi’i). Tetapi pada 1987 model tarawih tersebut diubah menjadi dua-dua. Hal tersebut atas saran KH. Shidiq Abbas dari Jombang. Beliau tampilkan hadits dari Shohih Imam Muslim.
Contoh lain adalah soal rukyat hilal. Semua ahli ilmu falak, apalagi dari Muhammadiyah pasti mengeri dan ingat bahwa dulu Muhammadiyah menggunakan rukyat hilal dengan derajat cukup tinggi. Hal itu berlangsung sampai era Orde Baru. Karena waktu itu Muhammadiyah menguasai Depag, maka tetap bertahan dengan derajat cukup tinggi, menolak hilal dua derajat. Sementara ahli falak NU menerima hilal dua derajat. Oleh karena itu, tahun 1990an NU tiga kali berturut-turut berbeda Lebaran dengan Pemerintah-Muhammadiyah. Setelah Orde Baru tumbang dan Gus Dur menjadi presiden, mindset Muhammadiyah berubah dan radikal meninggalkan rukyat hilal derajat tinggi. Lalu mereka membuat metode “wujudul hilal”, artinya pokoknya hilal terlihat di ufuk, sekalipun derajatnya nol koma, mereka sudah menetapkan tanggal satu. Disini jelas kualitas hujjah Muhammadiyah yang berubah-ubah yang tidak valid.
Menyikapi Lebaran dua versi, pengikut Muhammadiyah tentu tenang karena sudah terbiasa dengan perubahan pemikiran pimpinannya. Uniknya, semua ilmuwan Muhammadiyah yang akademis, ahli, kritis justru tunduk patuh pada Majelis Tarjih. Sungguh, dalil yang dicari-cari belakangan dan dipaksakan, sangat mudah dipatahkan !!!
Dinukil dengan perubahan sedikit dari : KH. Musta’in Syafi’i

0 comments:

Post a Comment

Tukar Link Otomatis

Sangpecinta: www.facebook.com/anti.wahabi ::: Santun Menyejukkan:::

video

no video list

Posting Terbaru

Menu Blog

Arsip Blog

Top Comments