Al-Habib Abdurrahman Wahid dan Kerendahan Hatinya

Al-Habib Abdurrahman Wahid dan Kerendahan Hatinya
Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, MA.

Sudah tidak bisa dipungkiri lagi, Gus Dur adalah sang guru bangsa yang lebih mencintai bangsanya daripada dirinya sendiri. Toleransi, moderatisme, kedamaian, demokrasi, keadilan, dan masih banyak lagi benih-benih mulia yang ditebarkan Gus Dur -tanpa pamrih- di Tanah Air dan dunia. Jasa-jasa agung Gus Dur tidak hanya dirasakan warga Nahdliyin dan umat Islam saja, tapi juga dinikmati umat manusia di seluruh penjuru dunia, dari berbagai suku, ras, dan agama. Tentunya orang-orang yang beraliran beku dan keras saja yang berbeda dengan beliau. Jutaan pena telah menulis fakta mengagumkan ini, terlalu boros dan membuang waktu jika penulis masih memperkenlkan Sang Gus Dur ke para pembaca. Namun, satu hal yang sangat menarik dan cukup jarang dilirik para pecinta Gus Dur adalah, disamping berdarah biru, ternyata -menurut sejumlah sumber akurat- beliau juga seorang habib yang berdarah suci. Nasab beliau bersambung hingga Rasulullah Saw. melalui Imam al-Husain Ra. Suatu keistimewaan yang tak biasa, namun itu pulalah keluarbiasaan Habib Abdurrahman Wahid yang sama sekali tidak suka memamerkan siapa dirinya!.

Tidak sedikit golongan habaib yang nampak sangat fanatik terhadap nasabnya; selalu berpenampilan habib (Arabis) dan lebih mendahulukan sesama habibnya dalam setiap kepentingan sosialnya, terutama dalam hal pernikahan; masih sering dianggap tabu apabila sang syarifah menikah dengan yang bukan habib. Ironisnya, fanatisme itu terkadang lebih menonjol dari orang-orang keturunan Arab yang bukan habaib / alawiyyin (keturunan Rasul) tapi sekedar qabail (keturunan para sultan dan angkatan bersenjata Arab kuno) saja. Memang amat sangat baik memelihara nasab yang mulia, akan tetapi Sang Habib Abdurrahman Wahid, seperti yang kita kenal, toleransi beliau sungguh luar biasa!.

Keturunan darah yang suci tidak selalu menjamin kesucian seseorang tanpa mengikuti jejak-jejak suci yang dituntun Sang Baginda Yang Suci. Itulah yang sangat dipahami Habib Abdurrahman Wahid yang selalu benar memehami sejarah. Sejarah Nabi Adam dan Nabi Nuh sudah terlalu cukup untuk dipelajari agar tidak berlebihan mengandalkan nasab. Bahkan Rasulullah Saw. sendiri mengajarkan cucu-cucu beliau agar tidak fanatik terhadap nasabnya. Syarifah (keturunan Quraisy) Zainab binti Jahsy beliau nikahkan dengan Saidina Zaid bin Haritsah yang bukan habib. Syarifah Fathimah binti Qais beliau nikahkan dengan Saidina Usamah bin Zaid yang bukan habib. Saidina Bilal bin Rabah yang bukan habib (keturunan Quraisy) menikah dengan saudarinya Habib Abdurruhman bin Auf. Bahkan putri Rasulullah Saw. sendiri dinikahkan secara resmi dengan Saidina Utsman bin Affan yang keturunan Abdu Syams. Habib Ali bin Abi Thalib suami Syarifah Fathimah az-Zahra' pun menikahkan putri beliau Syarifah Ummu Kultsum dengan Saidina Umar bin al-Khatthab yang bukan habib. Semua itu karena Rasulullah Saw. sendiri berpesan "Pilihlah pasangan hidup karena agamanya, maka itu sudah cukup bagimu". Adapun harta, kecantikan / kegantengan, dan keturunan, itu nomor sekian!.

Di kesempatan lain Rasulullah Saw. juga menegaskan: "Tiada kemuliaan bagi orang Arab dihadapan orang luar Arab kecuali dengan takwa". Sabda inipun dipahami dengan baik dan benar oleh Habib Abdurrahman Wahid yang sangat prihatin terhadap fenomena Arabisasi di Indonesia. Padahal, beliau yang tulen keturunan Arab bahkan keturunan manusia tersuci sejagat raya pun biasa-biasa saja; tidak suka mengayunkan sorbannya dihadapan umat jelata, dan dihadapan umat non-muslim pun tetap tampil toleran dan sederhana.

Habib Abdurrahman Wahid juga sadar bahwa tidak hanya silsilah nasab legal yang membuat seseorang menjadi habib. Lagi-lagi Habib Abdurrahman Wahid adalah penguasa sejarah. Saidina Shuhaib, Saidina Salman, Saidina Bilal, dan juga sahabat-sahabat lain yang sama sekali bukan keturunan Hasyim dan Quraisy ternyata resmi meraih gelar habib langsung dari Rasulullah Saw., sebab kehabiban bukan hanya diperoleh melalui silsilah nasab, akan tetapi lebih pasti diraih melalui keimanan dan ketakwaan, karena seseorang yang bertakwa telah mengikuti jejak Rasul sehingga disebut al yang artinya cenderung, maka Alul Bait adalah orang-orang mulia karena selalu cenderung pada jejak Rasul. Al-Qur'an juga menegaskan bahwa putra Nabi Nuh yang 100% berdarah ayahnya, ternyata tidak pantas dikatakan al atau ahl-nya karena tidak mengikuti jejaknya. Allah berfirman: "Sesungguhnya ia bukan dari keluarga (ahl)-mu, karena apa yang ia lakukan bukanlah perbuatan yang mulia".

Di negeri Mesir saja, sebuah tanah Arab yang dipenuhi makam-makam Ahlul Bait, para habaibnya (di Mesir dujuluki dengan Asyraf) tidak selalu memakai jubah dan sorban sebagaimana yang nampak di negeri asing seperti Indonesia. Sayyid Mahmud Ahmad Husain as-Syarif sebagai Ketua habaib se-Mesir pun begitu gagah menampilkan kelapangan dada dan pikirannya dengan senantiasa berjas, berdasi, dan tanpa menutupi kepalanya. Ketua habaib se-Mesir itu seakan mengingatkan bahwa habib yang budiman adalah yang menghargai budaya setempatnya, bukan yang memamerkan budaya Saudi dan Yaman di setiap negara asing yang dikunjunginya!.

Habib Abdurrahman Wahid yang lebih akrab disapa Gus Dur juga lahir dari keturunan yang sangat berpengaruh di zamannya. Dikabarkan bahwa dari garis ibu, leluhur Habib Abdurrahman Wahid adalah dari keturunan Cina yang bermarga Tan, yaitu Tan Kin Ham, seorang panglima perang yang membantu Raden Patah mengalahkan kerajaan Majapahit, yang dikenal juga dengan nama Syaikh Abdul Qodir as-Shini yang dimakamkan di Trowulan Mojokerto Jawa Timur. Ada juga sumber menyatakan bahwa Habib Abdurrahman Wahid adalah keturunan dari Sunan Kalijaga dan Syaikh Siti Jenar. Konon Sunan Kalijaga menikah dengan putrinya Syaikh Siti Jenar, dan dari pernikahan itulah leluhur Habib Abdurrahman Wahid dilahirkan. Namun pada silsilah nasab yang sampai kepada Rasulullah Saw., Habib Abdurrahman Wahid adalah keturunan Jaka Tingkir dan Sunan Giri.

Walhasil, Habib Abdurrahman Wahid adalah manusia berdarah luar biasa. Tak heran mengapa beliau menjadi pahlawan bangsa sekaligus ulama terkemuka yang juga luar biasa. Namun itulah kerendahan hati seorang habib yang sesungguhnya, sehingga orang-orang awam tidak mudah mendeteksi kemuliaannya!.

Umat merindukanmu, Habib!.

source : http://www.aziznawadi.net/catatan/habib.html

2 comments:

Irfan Alfaren said...

Maaf sx lagi,,setau saya gus.Dur itu tidak ada keturunan Rosul(habib)...antum dapet sumber nasab silsilah beliau dari mana,,saya mengakui beliau orang Alim,,tapi maaf beliau bukan habib

Irfan Alfaren said...

Maaf sx lagi,,setau saya gus.Dur itu tidak ada keturunan Rosul(habib)...antum dapet sumber nasab silsilah beliau dari mana,,saya mengakui beliau orang Alim,,tapi maaf beliau bukan habib

Post a Comment

Tukar Link Otomatis

Sangpecinta: www.facebook.com/anti.wahabi ::: Santun Menyejukkan:::

video

no video list

Posting Terbaru

Menu Blog

Arsip Blog

Top Comments