Iran Mampu Buat Kapal Induk

TEHERAN - Kepala Angkatan Laut Iran Laksamana Habibullah Sayyari mengatakan bahwa negara mampu membangun kekuatan laut. Sayyari mengklaim Iran mampu membangun sebuah kapal induk.

"Angkatan Laut Iran memiliki segala peralatan untuk membangun kapal induk. Akan tetapi, saat ini hal tersebut bukanlah prioritas utama," jelas Laksamana Sayyari seperti dikutip IRNA, Sabtu (26/11/2011).

Menurut Sayyari, Angkatan Laut Iran terus membuat perkembangan baik dalam memproduksi ataupun mengembangkan kapal selam serta kapal perang.

"28 November mendatang, tiga kapal selam baru akan memperkuat angkatan laut kami," jelasnya.

Sayyari menambahkan bahwa pihaknya memiliki rencana strategis untuk menambah kekuataan mereka di Laut Mediterania hingga 21 Maret mendatang.

Sejak tahun lalu, AL Iran memang terus meningkatkan keterlibatan mereka di perairan internasional. Secara rutin, kapal-kapal perang milik Iran terus berlayar di Samudera Hindia dan Teluk Aden. Mereka melindungi kapal-kapal dagang Iran dari bajak laut Somalia.

Memang, sejak November 2008 lalu, AL Iran turut serta dalam patroli anti-bajak laut di Teluk Aden. Hal ini mereka lakukan saat kapal kargo milik Iran, MV Delight dibajak oleh pembajak Somalia.

Tidak hanya itu, Iran juga mengirim dua kapal ke Laut Mediterania melalui Terusan Suez Februari lalu, hanya untuk membuat berang Israel dan Amerika Serikat (AS).

source : http://international.okezone.com/read/2011/11/26/412/534617/iran-mampu-buat-kapal-induk
Read More...

Ka'bah Vs Hati Wali

Diriwayatkan oleh Syaikh Syamsuddin at-Tabrizi bahwa suatu hari ketika Syaikh Abu Yazid al-Busthami sedang dalam perjalanan menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji, beliau mengunjungi seorang sufi di Bashrah. Secara langsung dan tanpa basa-basi, sufi itu menyambut kedatangan beliau dengan sebuah pertanyaan: "Apa yang anda inginkan hai Abu Yazid?".

Syaikh Abu Yazid pun segera menjelaskan: "Aku hanya mampir sejenak, karena aku ingin menunaikan ibadah haji ke Makkah".

"Cukupkah bekalmu untuk perjalanan ini?" tanya sang sufi.

"Cukup" jawab Syaikh Abu Yazid.


"Ada berapa?" sang sufi bertanya lagi.

"200 dirham" jawab Syaikh Abu Yazid.

Sang sufi itu kemudian dengan serius menyarankan kepada Syaikh Abu Yazid: "Berikan saja uang itu kepadaku, dan bertawaflah di sekeliling hatiku sebanyak tujuh kali".

Ternyata Syaikh Abu Yazid masih saja tenang, bahkan patuh dan menyerahkan 200 dirham itu kepada sang sufi tanpa ada rasa ragu sedikitpun. Selanjutnya sang sufi itu mengungkapkan: "Wahai Abu Yazid, hatiku adalah rumah Allah, dan ka'bah juga rumah Allah. Hanya saja perbedaan antara ka'bah dan hatiku adalah, bahwasanya Allah tidak pernah memasuki ka'bah semenjak didirikannya, sedangkan Ia tidak pernah keluar dari hatiku sejak dibangun oleh-Nya".

Syaikh Abu Yazid hanya menundukkan kepala, dan sang sufi itupun mengembalikan uang itu kepada beliau dan berkata: "Sudahlah, lanjutkan saja perjalanan muliamu menuju ka'bah" perintahnya.

Syaikh Abu Yazid al-Busthami adalah seorang wali super agung yang sangat tidak asing lagi di hati para penimba ilmu tasawuf, khususnya tasawuf falsafi. Beliau wafat sekitar tahun 261 H. Sedangkan Syaikh Syamsuddin at-Tabrizi (yang meriwayatkan kisah di atas) adalah juga seorang wali besar (wafat tahun 645 H.) yang telah banyak menganugerahkan inspirasi dan motivasi spiritual kepada seorang wali hebat sekaliber Syaikh Jalaluddin ar-Rumi, penggagas Tarekat Maulawiyah (wafat tahun 672 H.).

Namun siapakah sang sufi itu?. Nampaknya, kewalian yang ia miliki jauh lebih tinggi dari ketiga imam ternama di atas. Siapakah gerangan ia...?!?


Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, MA.

http://www.aziznawadi.net/catatan/hati.html

Read More...

Syaikh Abdul Jalil Qasim dan Ilham Seputar Rasulullah Saw.

Syaikh Abdul Jalil Qasim adalah seorang pemuka al-Azhar sekaligus Syaikh Thariqah Syadzuliyah yang sudah tidak asing lagi di hati para ulama Timur Tengah. Beliau lahir di Mesir pada tanggal 1 Agustus 1921 dan wafat pada tanggal 15 Mei 1998. Para sejarawan dan ilmuan al-Azhar menyebutkan bahwasanya Syaikh Abdul Jalil Qasim merupakan salah seorang hamba shalih yang senantiasa memperoleh ilham-ilham suci dari Allah Swt. seputar rahasia-rahasia Islam dan kemukjizatan al-Qur'an. Serpihan-serpihan ilham tersebut telah disusun dalam sejumlah buku dan dipersembahkan oleh sekelmpok ulama al-Azhar semisal Prof. Dr. Hasan Abbas Zaki, Syaikh Jaudah Qasim dan tokoh-tokoh terpercaya lainnya.

Nasab Syaikh Abdul Jalil Qasim bersambung sampai Rasulullah Saw. melalui Saidina al-Husain Ra. dan beliau menganut mazhab Syafi'i dalam fikih serta menekuni tasawuf dari Sidi Syaikh Abdul Fattah al-Qadhi Ra. melalui sebuah tarekat sufi masyhur yaitu Thariqah Syadzuliyah.

Dalam catatan ini penulis akan memaparkan beberapa ilham yang beliau peroleh seputar kepribadian Sang Rasul Islam, Baginda Nabi Muhammad Saw. baik diperoleh dalam mimpi maupun disaat jaga. Mari kita simak bersama dengan hati yang sehat dan bersahaja, bukan dengan akal yang terbatas dan tebal sekatnya.

Dalam kitab "Khawathir Ilhamiyah Haula al-Aqidah al-Islamiyah wa Sayidina Rasulillah Saw." Syaikh Abdul Jalil Qasim menyebutkan bahwa segala sesuatu memiliki hati. Hati al-Qur'an adalah surat Yasin. Hati surat Yasin adalah ayat "Salamun qaulan min Rabbin Rahim". Artinya, al-Qur'an adalah seluruh jagad raya ini. Hatinya adalah Rasulullah Saw. Beliau adalah sumber kehidupan jagad raya ini sebab jasad menjadi hidup karena adanya hati. Beliau lah asal wujud semua ini. Beliau adalah cahaya kasih sayang Ilahi.

Syaikh Abdul Jalil Qasim menambahkan bahwa segala sesuatu tercipta dari maupun untuk cahaya Rasulullah Saw. Dan oleh karena beliau adalah cahaya, maka beliau dapat melihat dengan jelas di ruang yang gelap gulita sekalipun. Beliau tidak memerlukan cahaya karena segala cahaya tak seterang diri beliau. Dan selepas meninggal dunia, beliau masih hidup di dalam kubur dan memberikan pertolongan kepada hamba-hamba yang memohon. Jangankan selepas wafat, sebelum lahir pun beliau sudah banyak menolong para nabi dan rasul terdahulu, seperti Nabi Adam hingga diterima taubatnya oleh Allah, Nabi Yunus hingga bebas dari penjara ikan paus, Nabi Ibrahim hingga selamat dari panasnya api, semua itu karena pertolongan Nabi Besar Muhammad Saw.

Selanjutnya, Syaikh Abdul Jalil Qasim menjelaskan bahwa Rasulullah Saw. pernah mengatakan bahwa setiap rasa sakit yang diderita umat, pasti dirasakan pula oleh beliau. Karena beliau mengenal betul setiap orang dari umatnya, mendengarkan selawat mereka dan menjawab salam mereka. Tidakkah menjawab salam hukumnya wajib? Tentulah beliau tidak ketinggalan hal itu. Dan jangan heran, wali saja bisa berwujud 40 jasad di banyak tempat dalam satu waktu, apalagi Rasulullah..!!

Syaikh Abdul Jalil Qasim berikut mengemukakan bahwa Rasulullah Saw. adalah ciptaan Allah yang pertama, sebab beliau adalah kasih sayang bagi semesta alam, dan kasih sayang Allah telah mendahului murkanya serta meliputi segala sesuatu di jagad raya, itulah Rasulullah Saw. yang senantiasa meraih selawat dari Allah Swt. dan para malaikat. Nabi Adam pun mengawini Siti Hawa dengan mahar selawat kepada Baginda Nabi Muhammad Saw. Demikian instruksi yang diperoleh Nabi Adam As. dari malaikat yang telah mengenal keagungan Nabi Muhammad 1000 tahun sebelum mengenal Nabi Adam As.

Syaikh Abdul Jalil Qasim juga menceritakan, di saat isra' mi'raj, Rasulullah Saw. telah naik ke Tuhan dengan jasad suci beliau, dan juga jubah serta terompah beliau. Beliau telah menguasai ilmu Lauh Mahfuz serta ilmu al-Qalam, dan sepanjang jalan beliau melihat dengan penglihatan Allah dan mendengar dengan pendengaran Allah sebagaimana yang termaktub dalam ayat pertama surat al-Isra'. Selanjutnya, sesampai di puncak, beliau melihat Allah dengan mata hati sekaligus mata kepala. Kalau ilmu Lauh Mahfuz dan ilmu al-Qalam telah dikuasai Rasulullah, dan kalau Allah Swt. telah disaksikan beliau dengan mata hati dan mata kepala sekaligus, maka sudah 100% pasti ilmu-ilmu di bawahnya sangatlah kecil dan gampang bagi beliau, apalagi ilmu-ilmu manusia biasa; kimia, kedokteran, komputer, internet, dll. Keagungan ini bila diresapi, sungguh tidak ada ujungnya. Sangat mustahil bagi akal untuk menjangkaunya.

Kita adalah manusia-manusia biasa. Tentu akal kita sangatlah terbatas. Tak sepatutnya Rasulullah Saw. disamakan dengan kita. Jangankan beliau dan para nabi yang lain, para wali saja sudah luar biasa dan jauh berbeda dengan kita-kita. Lihat Sidi Syaikh Ibrahim al-Dusuqi Ra. yang telah menyelamatkan ibunya dari gangguan laki-laki iseng jauh sebelum ia lahir, bahkan sebelum ibu dan bapaknya menikah. Para nabi dan wali adalah hamba-hamba pilihan dan kesayangan Allah, sedang Allah Maha Kuasa atas segala-galanya!. Demikian papar Syaikh Abdul Jalil Qasim yang sejak tahun 1950 sudah mengajar di universitas al-Azhar.

Syaikh Abdul Jalil Qasim juga menekankan dan menegaskan bahwa cinta kepada Rasulullah Saw. akan terealisasikan melalui cinta kepada Ahlul Bait, sebab Rasul sendiri menyatakan bahwa Ahlul Bait adalah sumber kenyamanan bagi seluruh penghuni bumi. Khususnya Siti Fathimah Ra. sebagai wanita termulia di antara seluruh wanita jagad raya, termasuk Siti Maryam. Sebab Siti Maryam terpilih sebagai wanita satu-satunya yang melahirkan tanpa melewati hubungan suami isteri, sementara Siti Fathimah adalah puteri kesayangan Sang Junjungan Alam, Baginda Nabi Besar Muhammad Saw.

Begitu juga dengan Saidina al-Husain Ra. yang merupakan buah hati Rasulullah Saw. Maka buah cinta kepada Rasul adalah cinta sedalam-dalamnya kepada Saidina al-Imam al-Husain. Pantas saja Rasulullah mengumumkan bahwa Allah sangat mencintai hamba yang mencintai Imam al-Husain.

Banyak lagi petuah-petuah mulia dari Syaikh Abdul Jalil Qasim yang diperoleh melalui ilham-ilham suci baik dalam mimpi maupun di saat jaga. Setiap kali beliau mendapat ilham, beliau segera menulisnya dan meyerahkannya kepada Syaikh Ahmad al-Syabakah agar ditulisnya kembali dengan tulisan yang lebih bagus. Pembaca yang budiman, mari kita buka bersama lembaran hidup baru yang putih nan bersih, untuk kita ukir sebaris dua baris cinta kepada Rasul, Ahlul Bait dan para kekasih Allah yang menjadi sumber ketentraman kita dari dunia sampai akhirat.

Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, MA.

http://www.aziznawadi.net/catatan/qasim.html

Read More...

Hukum Merokok

Mengenai hukum merokok, di bawah ini beberapa argumen bahwa merokok tidak haram...

1. Allah Swt. dan RasulNya Saw. tidak pernah menegaskan bahwa tembakau atau rokok itu haram.

2. Hukum asal setiap sesuatu adalah halal kecuali ada nash yang dengan tegas mengharamkan.

3. Sesuatu yang haram bukanlah yang memudaratkan, dan sesuatu yang halal bukanlah yang memiliki banyak manfaat, akan tetapi yang haram adalah yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya (walau bermanfaat), dan yang halal adalah yang dihalalkan oleh Allah dan RasulNya (walau memudaratkan).

4. Tidak setiap yang memudaratkan itu haram, yang haram adalah yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya baik itu memudaratkan atau tidak. Cabe, daging kambing, gula, asap mobil dll. juga memudaratkan tapi tidak haram, mengapa justru rokok saja yang haram padahal masih banyak lain yang juga memudaratkan?

5. Segala jenis ikan di dalam laut hukum memakannya halal sebagaimana yang diterangkan dalam hadits. Padahal banyak jenis ikan yang memudaratkan di dalam laut tersebut, tetapi tetap halal walau memudaratkan. Kalau kita mengharamkannya maka kita telah men-taqyid hadits yang berbunyi "Yang suci airnya dan yang halal bangkainya".

6. Kita boleh saja melarang atau meninggalkan, tapi kata-kata haram tidak boleh terucapkan karena Allah berfirman: "Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah". Kita boleh saja mengatakan: jangan merokok karena ia memudaratkan, tapi kita tidak boleh mengatakan: merokok itu haram, sebagaimana kita mengatakan kepada anak-anak kita: jangan sering makan coklat karena ia merusak gigi, dan kita tidak pernah mengatakan: banyak makan coklat itu haram. Kita mungkin mengatakan: makan permen yang dicampur sambal dapat menyebabkan penyakit influenza, namun kita tidak boleh mengatakan: makan permen yang diberi sambal itu haram.

7. Kalau rokok dikatakan bagian dari khaba'its maka bawang juga termasuk khaba'its, mengapa rokok saja yang diharamkan sementara bawang hanya sekedar makruh (itupun kalau akan memasuki masjid)?

8. Rokok adalah termasuk mimma ammat bihil-balwa pada zaman ini.

9. Hadits "La dlarara wala dlirar" masih umum, dan bahaya-bahaya rokok tidak mutlak dan tidak pasti, kemudian ia bergantung pada daya tahan dan kekuatan tubuh masing-masing.

10. Boros adalah: menggunakan sesuatu tanpa membutuhkannya, dari itu jika seseorang merokok dalam keadaan membutuhkannya maka ia tidaklah pemboros karena rokok ternyata kebutuhan sehari-harinya juga.

11. Rokok adalah bagian dari makanan atau minuman sebab ia dikonsumsi melalui mulut, maka ia halal selama tidak berlebihan, Allah berfirman: "Makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan" dan Allah telah menyebutkan makanan-makanan dan minuman-minuman yang haram seperti arak, babi, bangkai dll. dan ternyata Allah tidak menyebut rokok di antaranya.

12. Realita menunjukkan bahwa rokok ternyata memberi banyak manfaat terutama dalam menghasilkan uang, di pulau Lombok misalnya, hanya tembakaulah yang membuat para penduduknya dapat makan, jika rokok diharamkan maka mayoritas penduduk Lombok tidak tahan hidup. Allah berfirman: "Katakanlah hai Muhammad: Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan sebagiannya halal. Katakanlah: Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu tentang ini atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?"

13. Terdapat banyak cara untuk mengurangi dan mencegah bahaya-bahaya rokok.

14. Qiyas kepada khamr tidak benar karena rokok tidak memabukkan dan tidak menghilangkan akal, justru melancarkan daya berfikir. Dan yang paling penting adalah haramnya khamr karena ada nash, dan tidak haramnya rokok karena tidak ada nash. Kemudian qiyas tidak boleh digunakan dengan sembarangan.

15. Rokok tidak ada hubungannya sama sekali dengan ayat "Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan" karena ayat tersebut membicarakan hal lain.

16. Adapun ayat "Dan janganlah kamu membunuh dirimu" maksudnya adalah bunuh diri, maka adakah orang yang sengaja membunuh dirinya dengan menghisap rokok? kalaupun ada jenis rokok yang sengaja dibuat khusus untuk bunuh diri maka tetap yang haram bukan rokoknya akan tetapi yang haram adalah bunuh dirinya. Sebagaimana seseorang membunuh dirinya dengan pisau, maka yang haram bukan penggunaan pisaunya tetapi bunuh dirinya.

17. Mengharamkan yang bukan haram adalah termasuk dosa besar maka diharapkan agar berhati-hati, Allah berfirman: "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta: Ini halal dan ini haram, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidakah beruntung".

18. Banyak ulama' dan auliya' yang juga perokok bahkan perokok berat, apakah kita menyamakan mereka dengan para bajingan yang minum arak di pinggir jalan? Allah berfirman: "Apakah patut Kami jadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa? Mengapa kamu berbuat demikian? bagaimanakah kamu mengambil keputusan?". Allah juga berfirman: "Apakah orang yang beriman itu sama seperti orang yang fasik? Sesungguhnya mereka tidak sama". Allah juga berfirman: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?".

19. Di antara sejumlah ulama' yang tidak mengharamkan rokok semisal: Syekh Syehristani, Syekh Yasin al-Fadani, Syekh al-Sistani, Syekh Muhammad al-Salami, Syekh al-Dajawi, Syekh Alawi al-Saqqaf, Syekh Muhammad bin Isma'il, Syekh al-Ziadi, Syekh Mur'i al-Hanbali, Syekh Abbas al-Maliki, Syekh Izzuddin al-Qasysyar, Syekh Umar al-Mahresi, Syekh Muhammad Alawi al-Maliki, Syekh Hasan al-Syennawi, Syekh Ahmad bin Abdul Aziz al-Maghribi, Syekh Abdul Ghani al-Nabulsi, Syekh Muhammad Utsman Abduh al-Burhani, Syekh Mukhtar Ali Muhammad al-Dusuqi, dll.

20. Dalam kitab Muntakhabat al-Tawarikh Lidimasyq, Syekh Muhammad Adib al-Hishni mengutip ungkapan seorang wali besar dan ulama' ternama serta tokoh sufi terkemuka asal Syiria, yaitu Sidi Abdul Ghani al-Nabulsi Ra. (wafat tahun 1143 H.) yang berbunyi sebagai berikut :

دخان التبغ هام به البرايا # فطيب العود سفل وهو علو
مرارته حلاوة ذائقيه # ألا فاعجب لمر وهو حلو

Asap rokok menggoda selera;
Pun semerbak kasturi tertandingi.
Pahitnya, manis terasa,
Aneh, pahit kok manis rasanya.

21. Dalam buku yang sama menceritakan: Syekh Sunan Efendi yang lebih dikenal dengan sebutan Allati Barmaq, seorang mufti dan pakar fikih bermazhab hanafi dan yang sempat meraih julukan Syaikhul-Islam pada masanya, pernah membaca karya tulis Sidi Abdul Ghani al-Nabulsi Ra. tentang kebolehan merokok, berjudul: al-Ishlah bainal-Ikhwan fi Ibahat Syurb al-Dukhan. Syekh Allati Barmaq saat itu mengharamkan rokok, oleh karena itu ia sangat kontra dengan isi buku tersebut yang kemudian terjadilah adu argumen antara Syekh Allati Barmaq dengan Sidi al-Nabulsi yang akhirnya Syekh Allati Barmaq mengakui kebenaran Sidi al-Nabulsi lantas minta maaf, lalu dengan tegas mengatakan bahwa yang mengharamkan rokok adalah jahil, tolol, zindiq dan tak ubahnya dengan binatang hina. Sebab ternyata pada rokok terdapat rahasia Allah yang menyirati banyak khasiat dan manfaat. Aroma dan rasanya pun amat lezat. Ungkapan tersebut berbunyi sebagai berikut :
جهول منكر الدخان أحمق # عديم الذوق بالحيوان ملحق
مليح ما به شيء حرام # ومن أبدى الخلاف فقد تزندق
ألا يا أيها الصوفي ميلا # إلى الدخان علك أن توفق
ولولا أن في الدخان سرا # لما فاحت روائحه وعبق
ففي الدخان سر الله يبدو # وشاهده المحقق التي برمق

 
Sungguh tolol, yang tak peka asap rokok,
Bak hewan yang tak punya cita rasa.
Tak patut diharamkan,
Hanya kaum zindiq lah yang merekayasa.
Wahai pecandu sufi, kenapa tak kau rengkuh rokok saja.
Andai tak ada rahasia, baunya pun takkan lezat terasa.
Padanya; rahasia Sang Kuasa,
Ahli hakekat Allati Barmaq sebagai saksinya.

22. Dalam kitab Jawahirul-Bihar fi Fadla'ilinnabiyyil-Mukhtar oleh Syekh Yusuf al-Nabhani, menyatakan sebagai berikut :
من جواهر العارف النابلسي قوله رضي الله عنه في رحلته الحجازية المذكورة : جاء إلى مجلسنا السيد عبد القادر أفندي على عادته، وكان يقرأ علينا في مختصر صحيح البخاري في أواخره فقرأ الحديث الذي أخرجه البخاري : عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : " من رآني في المنام فسيراني في اليقظة ولا يتمثل الشيطان بي " فتكلمنا على هذا الحديث بما تيسر وذكرنا رسالة الشيخ السيوطي التي سماها إنارة الحلك في إمكان رؤية النبي والملك، وذكرنا بعض قصص وآثار فأخبرنا السيد عبد القادر المذكور بأن هذه الرسالة عنده وجاء بها إلينا بعد ذلك في ضمن مجموع . ثم جرت معه مذاكرة في شرب الدخان فأخبرنا عن الشيخ أحمد بن منصور العقربي عن شيخنا الشريف أحمد بن عبد العزيز المغربي أنه كان يجتمع بالنبي صلى الله عليه وسلم مراراً عدة وأنه مرض مرضاً شديداً فسأل النبي صلى الله عليه وسلم عن شرب الدخان فسكت النبي صلى الله عليه وسلم ولم يرد له الجواب، ثم أمره باستعماله .

Artinya: Syekh Abdul Ghani al-Nabulsi Ra. menceritakan sebuah perjalanannya menimba ilmu di tanah Hijaz: "Syekh Abdul Qadir Efandi, seperti biasa, hadir bersama kami untuk membaca ringkasan Sahih Bukhari. Lantas, ia membaca hadits yang berbunyi "Dari Saidina Abi Hurairah dari Nabi Saw. beliau bersabda: "Siapa yang bertemu aku pada saat mimpi, pasti akan bertemu denganku dalam keadaan terjaga, dan tak mungkin setan menyerupaiku". Kami berdiskusi tentang hadits ini seraya mengutip karya Imam Suyuthi yang berjudul Inaratul-Halak fi Imkan Ru'yat al-Nabi wal-Malak. Syekh Abdul Qadir Efandi menyebutkan bahwa ia memiliki karya tersebut sah secara silsilah dan akan disampaikan kepada kita (para santrinya). Selanjutnya kami berdiskusi tentang hukum merokok, lalu ia meriwayatkan: "Ada sebuah kisah dari Syekh Ahmad bin Manshur al-Aqrabi, dari Syekh Ahmad bin Abdul Aziz al-Maghribi, ia menyatakan bahwa ia sering bertemu dengan Nabi Saw. (dalam tidur maupun jaga). Suatu ketika ia jatuh sakit dan menemui beliau, kemudian bertanya tentang hukum merokok, Nabi pun diam tak menjawab. Kemudian beliau malah menyuruhnya untuk merokok" !!!

وكان لأهل المدينة فيه غاية الإعتقاد وكان من أكابر الأولياء ومن محققي العلماء الأعلام رحمه الله تعالى .

Syekh Ahmad bin Abdul Aziz al-Maghribi di atas (yang senantiasa menjumpai Rasul dan sempat menanyakan beliau tentang rokok dan ternyata mendapat perintah untuk menghisapnya) adalah seorang pemuka kenamaan dan tokoh kepercayaan pada masanya. Seorang ulama' berjasa besar, bahkan waliyullah papan atas.

23. Agama tidak pernah menganjurkan siapa saja untuk merokok. Di waktu yang sama, agama tidak juga mengharamkan hal-hal yang tidak ingin diharamkannya. Boleh saja membuat peraturan-peraturan tertentu demi terjaganya kesehatan dan tercegahnya pencemaran udara semisal membuat lokasi-lokasi khusus bagi para perokok atau yang lainnya, asalkan tidak mengharamkannya, itu saja, sekali lagi yang penting tidak mengharamkan yang halal (begitu juga sebaliknya) sebab itu adalah dosa besar. Selanjutnya... terserah anda... Allah berfirman: "Katakanlah: Sesungguhnya kebenaran itu telah datang dari Tuhanmu, maka barang siapa yang ingin percaya, hendaklah ia percaya, dan barang siapa yang ingin ingkar biarlah ia ingkar".

Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, MA.

http://www.aziznawadi.net/catatan/rokok.html

Read More...

Syaikh Abu Yazid dan Pendeta

Suatu malam, puluhan abad yang lalu, tatkala Syekh Abu Yazid al-Busthami tidur, beliau mendengarkan suara mengatakan: "Bangunlah hai Abu Yazid, karena hari ini adalah hari raya kaum nasrani. Pergilah ke mereka untuk menyampaikan risalah nabimu Muhammad Saw.". Perintah itu kemudian dipatuhi Syekh Abu Yazid dengan penuh ketabahan. Beliau segera menuju sebuah gereja terdekat dimana perayaan natal dilangsungkan.

Setelah memasuki gereja tersebut, sang pendeta yang sedang menkhutbahi jamaahnya seketika diam dan tak berbicara. Jamaah heran dan bertanya: "Kenapa engkau diam pak pendeta?". Pendeta menjawab: "Aku tidak akan melanjutkan khutbahku kecuali orang muslim itu dikeluarkan dari gereja ini" sambil menunjuk ke Syekh Abu Yazid.

"Dari mana bapak mengetahui dia muslim?" tanya jamaah nasrani yang hadir.
"Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka oleh bekas sujud" jawab pendeta.
"Keluar..!" jamaah nasrani mengusir Syekh Abu Yazid dari gereja.
"Aku tidak akan keluar sebelum Allah memberi keputusan di antara kita" bantah Syekh Abu Yazid.

Terjadilah tanya jawab yang sungguh hangat antara si pendeta dengan Syekh Abu Yazid.
"Aku akan menanyakan beberapa pertanyaan kepadamu, kalau tidak kamu jawab maka aku potong lehermu..!" kata pendeta.
"Silahkan" Syekh Abu Yazid optimis dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah Swt.

"Satu dan tidak ada duanya, apakah itu?" tanya pendeta.
"Allah Swt." jawab Syekh Abu Yazid.

"Dua dan tidak ada tiganya, apa itu?".
"Siang dan malam".

"Tiga dan tidak ada empatnya?".
"Tragedi-tragedi Saidina Khidir dan Nabi Musa".

"Empat dan tidak ada limanya?".
"Kitab-kitab suci".

"Lima dan tidak ada enamnya?".
"Shalat wajib".

"Enam dan tidak ada tujuhnya?".
"Hari-hari yang dengannya bumi tercipta".

"Tujuh dan tidak ada delapannya?".
"Langit-langit".

"Delapan dan tidak ada sembilannya?".
"Para pemikul Arsyi Allah".

"Sembilan dan tidak ada sepuluhnya?".
"Mukjizat-mukjizat Nabi Musa".

"Sepuluh tapi menerima tambahan?".
"Pahala".

"Kuburan yang berjalan bersama penghuninya?".
"Ikan paus bersama Nabi Yunus".

"Kapan saat yang paling nikmat?".
"Saat bersetubuh".

"Sesuatu yang bernafas tanpa nyawa?".
"Subuh".

"Matahari dan bulan?".
"Orangtua Nabi Yusuf".

"Sebelas bintang?".
"Saudara-saudara Nabi Yusuf".

"Orang-orang yang benar tapi masuk neraka?".
"Yahudi ketika mengatakan nasrani tidak benar, dan nasrani ketika mengatakan yahudi tidak benar".

"Orang-orang yang berbohong tapi masuk surga?".
"Saudara-saudara Nabi Yusuf kepada Nabi Ya'qub".

"Pohon yang bercabang 12, setiap cabang ada 30 daun, setiap daun ada 5 buah; 2 kena sinar matahari dan 3 ketutup bayangan?".
"Tahun ada 12 bulan, setiap bulan ada 30 hari, setiap hari ada 5 shalat; 2 waktu siang dan 3 waktu pagi dan malam".

"Luar biasa !!! dari mana anda peroleh semua ilmu ini?" akhirnya si pendeta menganga.
"Kini giliranku bertanya kepada bapak pendeta" balas Syekh Abu Yazid.
"Silahkan" si pendeta sok mantap.

"Apa itu kunci surga?" tanya Syekh Abu Yazid al-Busthami Ra.
Si pendeta diam seribu bahasa sambil ketakutan. Jamaah yang sejak tadi mendengarkan dan menyaksikan berkata kepada si pendeta: "Wahai bapak pendeta, semua pertanyaanmu dijawabnya, kini satu pertanyaan saja darinya tidak kau jawab !!?!!". Akhirnya si pendeta menjawab dengan tenang dan tegas: "Kunci surga adalah Asyhadu an La Ilaha Illallah wa anna Muhammadan Rasulullah" !!!!! Maka menangislah seluruh kaum nasrani setempat dan serentak mengucapkan dua kalimat syahadat. Selanjutnya gereja tersebut berubah menjadi masjid !!!

Abdul Aziz Sukarnawadi, MA.

source : http://www.aziznawadi.net/catatan/busthami.html
Read More...

Mengenal Kembali Si Busuk Muhammad bin Abdul Wahhab

si busuk bin wahab

Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, MA.

Muhammad bin Abdul Wahhab, setan berwajah manusia ini konon berasal dari keluarga yang mulia. Ayahnya, Syeikh Abdul Wahhab dan saudaranya, Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab, adalah dua orang yang dianggap saleh oleh pemuka-pemuka agama setempat. Berbeda dengan Muhammad bin Abdul Wahhab yang diakui sesat dan menyesatkan oleh mayoritas ulama sedunia. Baca saja kitab "Fitnah al-Wahhabiyah" karya Syeikh Ahmad bin Dahlan al-Makki al-Syafi'i, sang mufti Makkah yang wafat pada tahun 1304 H. Beliau suka menyebut Muhammad bin Abdul Wahhab dengan sebutan "al-Khabits" yang artinya "Si Busuk".

Syeikh Ahmad bin Dahlan al-Makki al-Syafi'i menceritakan bahwasanya Muhammad bin Abdul Wahhab sejak dini telah diprediksikan sesat oleh ayah, saudara dan guru-gurunya. Jauh sebelum Muhammad bin Abdul Wahhab meraih popularitasnya di Saudi dan dunia, para ulama sekitar telah memberikan warning kepada umat agar berhati-hati darinya, dan ternyata betul apa yang mereka prediksikan. Muhammad bin Abdul Wahhab menentang guru-gurunya, lalu mengkafirkan seluruh ulama yang menghalangi penyesatannya.

Pada tahun 1143 H. mulailah Muhammad bin Abdul Wahhab menyebarkan pemikiran barunya, namun ayah dan guru-gurunya segera menghadang dan menegurnya. Sayangnya, pendirian Muhammab bin Abdul Wahhab terlanjur membatu sampai ayahnya meninggal dunia pada tahun 1153 H. Selanjutnya Muhammad bin Abdul Wahhab memperbaharui metode dakwahnya sehingga mulai diikuti banyak orang awam. Namun mayoritas penduduk kota risih dan hendak membunuhnya, akan tetapi ia melarikan diri ke kota Uyainah, disana ia menghadap amir Uyainah lalu menikahi saudara perempuan sang amir dan kemudian tinggal di Uyainah sambil berdakwah (menyeru) kepada dirinya dan bid'ah yang dibawanya. Tak lama kemudian, penduduk Uyainah pun muak dengannya lalu mengusirnya dari perut kota.

Si Muhammad belum menyerah juga, ia hijrah lagi ke Dir'iyah (sebelah timur kota Najd) dimana kawasan Dir'iyah dan sekitarnya dulu merupakan pusat dakwah Musailamah al-Kadzab yang melahirkan golongan-golongan murtad. Di tengah-tengah kawasan itu jualah Muhammad bin Abdul Wahhab menyebarkan virus-virusnya dan diikuti pula oleh amir setempat serta mayoritas rakyatnya. Saat itu Muhammad bin Abdul Wahhab bertindak seolah ia satu-satunya mujtahid mutlak. Ia tidak bersandar sedikitpun pada ajaran-ajaran para pendahulu, baik imam-imam mujtahid, ulama-ulama salaf maupun ilmuan-ilmuan kontemporer. Disamping itu juga ia tidak memiliki hubungan apapun dengan para mujtahid yang ada.

Demikian apa yang pernah terungkap oleh saudaranya, Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab, seseorang yang paling mengenali identitas Muhammad bin Abdul Wahhab. Beliau pernah mengungkapkan bahwa "Umat zaman ini sedang diuji coba dengan seseorang yang mengaku sejalan dengan Qur'an dan Sunnah dan beristinbath darinya tanpa memperdulikan siapapun yang berbeda dengannya. Yang tidak sefaham dengannya dianggap kafir, padahal ia tidak memiliki satupun kriteria mujtahid, demi Allah sepersepuluh satupun tidak punya. Namun pemikiran sesatnya itu sudah merajalela, Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un".

Muhammad bin Abdul Wahhab mempunyai ajaran sesat bahwa ziarah maqam dan tawassul merupakan perbuatan syirik. Begitu juga dengan upacara maulid maupun dzikir-dzikir ala tarekat sufi. Konsentrasinya adalah hal-hal prinsip dalam akidah umat Islam. Jeleknya, ia justru mengaku sebagai reformis yang menegakkan purifasi tauhid sehingga memperoleh jumlah pengikut yang cukup besar. Salah seorang pendukungnya adalah Muhammad bin Su'ud yang konon berasal dari kaum Musailamah al-Kadzab. Hal itu membuat para ulama setempat semakin serius melakukan berbagai penyanggahan, termasuk saudara kandungnya sendiri, Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab melalui dua karya tulis berjudul "al-Shawa'iq al-Ilahiyah fi al-Raddi ala al-Wahhabiyah" dan "Fashl al-Khithab fi al-Raddi ala Muhammad bin Abdil Wahhab".

Tak terkecuali Syeikh Muhammad al-Kurdi, guru terbesar Muhammad bin Abdul Wahhab yang secara tegas mengatakan: "Wahai Muhammad bin Abdul Wahhab, demi Allah aku menasehatimu, hentikanlah ulahmu terhadap umat Islam. Apabila kau menemukan seseorang meyakini suatu pengaruh dari selain Allah, maka luruskanlah keyakinannya secara baik-baik dan sebutkan dalil-dalilnya bahwa Allah lah yang mempengaruhi. Apabila ia masih dalam kesesatan, maka kekufurannya dari dan untuk dirinya. Janganlah kamu seenaknya mengkafirkan mayoritas umat yang hidup di dunia, karena itu akan mengantarmu ke neraka".

Setelah merincikan sisi-sisi historis, Syeikh Ahmad bin Dahlan al-Makki selanjutnya menyimpulkan bahwa fitnah golongan wahabi yang digagas Muhammad bin Abdul Wahhab merupakan suatu musibah dan malapetaka terbesar yang pernah menimpa umat Islam sepanjang sejarah. Bagi beliau, virus-virus wahabi sebetulnya telah diisyaratkan dalam banyak riwayat hadits sebagai peringatan untuk berhati-hati agar tidak mudah ditipu dan dipermainkan.

Ironinya, golongan wahabi belakangan ini sengaja merubah namanya menjadi golongan salaf atau golongan sunni. Dua nama ini sama sekali tidak pantas bagi mereka yang sudah jelas-jelas sesat di mata jumhur. Terlebih nama "salaf shalih" yang berarti "pendahulu yang saleh". Muhammad bin Abdul Wahhab bukanlah orang saleh dan bukan pula pengikut para ulama terdahulu. Syeikh Muhammad Sa'id Ramadlan al-Buthi, ulama Syiria, menegaskan dalam kitabnya "al-Salafiyah" bahwa kata salaf hanya teruntukkan bagi mereka para pendahulu yang hidup di masa yang berbarokah, bukan untuk menjadi sebuah nama bagi golongan khawarij modern yang sesat.

Begitu juga dengan nama "sunni", penamaan tak senonoh ini mengklaim bahwa mayoritas umat Islam di atas permukaan bumi tidak tergolong Ahlussunnah wal Jamaah, semisal kelompok asy'ari, maturidi maupun sufi, karena tidak sejalan dengan wahabi. Penamaan salafi dan sunni sebetulnya hanyalah upaya menutupi diri untuk memperbanyak massa. Itulah jeleknya wahabi.

Mungkin pembaca keberatan bila sosok populer seperti Muhammad bin Abdul Wahhab (yang buku-bukunya terjual laris manis di mana-mana) ditentang secara berlebihan. Rasa keberatan itu merupakan bukti terkuat bahwa pembaca sama sekali belum mengenal siapa Muhammad bin Abdul Wahhab. Pro-kontra damai antar ulama merupakan sebuah keniscayaan yang perlu kita hargai, akan tetapi Muhammad bin Abdul Wahhab adalah pengecualian terpenting, karena ia bukan ulama, ia hanyalah manusia goblok yang terlanjur di-ulama-kan oleh orang-orang goblok. Syeikh Muhammad Mutawali al-Sya'rowi adalah salah seorang ulama masyhur kontemporer yang secara tegas menjuluki "goblok" kepada orang-orang wahabi.

Sungguh banyak karya para ulama seputar kesesatan Muhammad bin Abdul Wahhab dan ajaran-ajarannya. Antara lain kitab "al-Wahhabiyyun wal Buyut al-Marfu'ah" karya Syeikh Muhammad Ali al-Kardistani, "al-Wahhabiyah wa al-Tauhid" karya Syeikh Ali al-Kaurani, "al-Wahhabiyah fi Shuratiha al-Haqiqiyah" karya Syeikh Sha'ib Abdul Hamid, "al-Durar al-Saniyah fi al-Raddi ala al-Wahhabiyah" karya Syeikh Ahmad bin Zaini Dahlan, "Kasyf al-Irtiyab fi Atba' Muhammad bin Abdil Wahhab" karya Syeikh Muhsin al-Amin, "Hadzihi Hiya al-Wahhabiyah" karya Syeikh Muhammad Jawwad, dan masih banyak lagi kitab-kitab terpercaya lainnya.

Mufti Mesir, Syeikh Ali Jum'ah al-Syafi'i dalam sebuah fatwanya menegaskan, kelompok wahabi gemar menipu umat dan menyembunyikan kebenaran demi kepentingan politik. Kelompok wahabi sangat anti kepada hadits-hadits dha'if namun di waktu yang sama mereka mendha'ifkan bahkan memaudhu'kan semua hadits yang tak sehaluan dengan pemikiran-pemikiran mereka. Syeikh Ali Jum'ah amat menyayangkan kelompok wahabi yang mengharamkan dzikir berjamaah, dzikir berdiri, dzikir isim mufrad, memuji Rasul, shalat di masjid yang ada maqamnya, bersumpah demi Rasul, menggunakan tasbeh, dan masih banyak lagi korban pengharaman orang-orang bodoh seperti mereka. Mungkin yang halal bagi mereka hanyalah darah orang-orang yang tak sependapat dengan mereka..!!

Senada dengan Habib Ali al-Jufri, ulama negeri Yaman yang sangat mengenal kelompok wahabi. Beliau mengatakan, wahabi jelas-jelas membenci Rasulullah Saw. dan mengkafirkan kedua orangtua Rasul serta paman beliau, Saidina Abu Thalib, seolah-olah mereka telah duduk santai di surga lalu menengok siapa saja penghuni neraka. Menurut Habib Ali al-Jufri, misi wahabi tiada lain menjauhkan hati umat dari cinta Rasul Saw. sebab musuh-musuh Islam tak mampu melakukannya secara terang-terangan. Pembaca dapat membuktikan dengan mudah kebencian wahabi terhadap Rasulullah Saw. dan agama Islam. Selain mengkafirkan orangtua Rasul, mereka juga merendahkan martabat Ahlul Bait, menyalahkan sahabat, mengharamkan tabarruk, maulid, tawassul, pujian kepada Rasul, lalu memusnahkan jejak-jejak Rasul, membatasi dan menghalangi ziarah maqam Rasul, mendha'ifkan atau memaudhu'kan banyak hadits shahih, dan seterusnya.

Penulis bukan yang pertama kali berbicara tentang kedoknya Muhammad bin Abdul Wahhab. Jutaan tokoh terpercaya dari seluruh penjuru dunia, baik terdahulu maupun masa kini, sudah banyak mengupas problema ini sampai tuntas dan dari segala sisi yang terkait. Kita kemana saja selama ini?! dan kenapa masih saja buta?! Jangan sok fair deh!. Ribuan ulama Ahlussunnah wal Jamaah yang jauh lebih pintar dari anda sudah tegas-tegas melawan dan menentang Muhammad bin Abdul Wahhab. Anda sendiri siapa?!

Dalam sebuah diskusi di Paramadina, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyebut kelompok wahabi sebagai kelompok yang memiliki rasa rendah diri yang sangat tinggi. Kelompok ini kemudian menutupi rasa rendah dirinya dalam bentuk mental mudah tersinggung, gampang mengkafirkan orang dan aksi-aksi kekerasan. Mereka menganggap diri dan kelompoknya lah yang memiliki otoritas kebenaran sejati. Kelompok-kelompok lain adalah kafir, penghuni neraka dan kalau perlu harus dimusuhi bahkan dibasmi.

Belakangan, ciri-ciri rasa rendah diri seperti dikemukakan Gus Dur itu mudah ditemui dalam praktik fatwa sesat, pengusiran, teror dan pembakaran rumah-rumah kelompok keagamaan di Indonesia yang mereka anggap sesat. Tentu saja mereka tidak mewakili umat Islam secara keseluruhan. Meski terus sesumbar mewakili aspirasi kelompok mayoritas umat, kenyataannya mereka segelintir saja.

Ideologi yang dikembangkan kelompok yang gemar mengkafirkan dan mengeluarkan fatwa sesat ini sekarang dianut Kerajaan Arab Saudi, bahkan kebanyakan pengamat mengatakan bahwa hampir semua gerakan Islam garis keras dewasa ini merupakan bagian dari atau setidaknya dipengaruhi oleh kelompok Wahabi. Ideologi inilah yang dianut secara resmi oleh Taliban di Afganistan dan jaringan al-Qaidah yang beberapa tahun ini aktif melakukan kegiatan teror di pelbagai belahan dunia.

Gus Dur menyebut kelompok Wahabi memiliki rasa rendah diri yang sangat besar karena ideologi ini berasal dari satu wilayah pinggiran di jazirah Arab, yaitu Najd. Kota Najd adalah satu wilayah yang dalam sejarah Islam tidak pernah memunculkan intelektual atau pemimpin Islam yang diakui. Wilayah ini malah terkenal sebagai wilayah yang kerap melahirkan para perampok suku Badui. Nabi sendiri mengakuinya dalam salah satu hadits. Orang-orang Najd juga adalah kelompok orang yang paling akhir masuk Islam. Bahkan Najd melahirkan tokoh oposan terhadap Nabi Muhammad yang amat terkenal: Musailamah al-Kadzab (Musailamah Sang Pembohong). Musailamah mendeklarasikan diri sebagai nabi pesaing untuk menandingi popularitas kenabian Saidina Muhammad Saw. saat itu.

Selain Wahabi, ideologi garis keras pada masa-masa awal Islam, Khawarij, juga didirikan orang-orang Najd. Banyak pengamat menyimpulkan bahwa Wahabisme sebenarnya hanyalah bentuk baru dari ideologi Khawarij. Orang-orang Khawarij lah yang mempopulerkan konsep pengkafiran dan bahkan pembunuhan terhadap mereka yang tidak setuju dengan pendapatnya. Kelompok inilah yang kemudian membantai sahabat sekaligus menantu Nabi Muhammad, Saidina Ali bin Abi Thalib, dan melancarkan aksi yang sama terhadap Gubernur Damaskus saat itu, Saidina Amr Bin Ash.

Kaum Wahabi menjadi kekuatan yang destruktif ketika mereka melakukan aliansi mengejutkan dengan sekelompok bandit pimpinan Muhammad bin Su'ud dari wilayah Dir'iyah. Sejak saat itulah kaum Wahabi terus melancarkan intimidasi dan teror dalam bentuk pengkafiran dan pembantaian terhadap orang-orang yang mereka anggap kafir. Arab Saudi lalu mereka kontrol sampai saat ini sehingga menjadi negara yang paling tertutup dan paling tidak bebas di seluruh dunia.

Wahabi kemudian juga dikenal sebagai gerakan anti ilmu pengetahuan dan menjadi salah satu sumber keterbelakangan umat Islam. Mereka menolak apapun yang baru, seperti teknologi dan jaringan informasi, karena itu dianggap bid'ah. Dengan tegas mereka menolak demokrasi. Mereka mengurung perempuan di dalam rumah. Mereka mengharamkan nyanyian. Mereka membenci kesenian. Memanjangkan jenggot bagi laki-laki dewasa adalah kewajiban. Buku-buku tasawuf dan filsafat yang merupakan salah satu warisan kekayaan intelektual Islam dianggap barang haram. Praktek kehidupan sosial seperti ini tampak nyata dalam kehidupan masyarakat Afganistan di bawah kekuasaan Taliban yang berideologi Wahabisme.

Dengan keuntungan minyak yang masih mengucur sampai hari ini, penguasa Saudi sukses mengekspor ideologi Wahabi ke seluruh pelosok dunia, tidak hanya ke negara-negara Islam, melainkan juga ke Eropa dan Amerika. Menurut Hamid Alghar, kelompok ini berhasil meraih pengikut sekitar 10% dari keseluruhan umat Islam di seluruh penjuru dunia. Anak-anak muda yang menyediakan diri menjadi martir dalam kegiatan bom bunuh diri di Eropa dan Amerika Serikat dalam beberapa tahun ini, sebetulnya datang dari generasi yang benar-benar terdidik secara Barat. Tapi, ideologi yang diekspor penguasa telah menggerakkan mereka untuk melakukan aksi terorisme.

Keluarga Su'ud yang kini menguasai otoritas politik dan agama di Arab Saudi sesungguhnya bukanlah keluarga yang dikenal saleh, kalau tidak dapat disebut kurang bermoral. Stephen Sulaiman Schwartz menyebut keluarga keluarga Su'ud sangat gemar menghambur-hamburkan kekayaan Saudi untuk keperluan judi dan main perempuan. Dengan kelakuan semacam itu, jumlah pangeran Saudi saat ini ditaksir mencapai 4000 orang. Artinya, seorang raja yang memiliki ratusan isteri dan selir bukanlah dongeng belaka di Arab Saudi.

Schwartz menyebut dukungan terhadap Wahabisme yang dilakukan penguasa Saudi adalah bentuk pengelabuan atas praktek tak bermoral yang mereka lakukan. Ideologi yang disebarkan oleh keluarga mantan bandit inilah yang kemudian dianut, atau setidaknya mempengaruhi kelompok Islam Indonesia yang belakangan gemar mengkafirkan dan mengeluarkan fatwa sesat terhadap mereka yang berbeda pendapat. Pengetahuannya terhadap Islam dan sejarahnya tidak mendalam, bahkan mereka bukan orang-orang yang cukup religius. "Saya percaya bahwa kekerasan bukanlah pantulan dari religiositas seseorang atau sekelompok orang. Mungkin, rasa rendah diri itulah yang justru mendatangkan brutalisme" ungkap Saidiman dalam sebuah artikel liberalnya.

Sedangkan Abdul Moqsith Ghazali, ia mengemukakan, gerakan untuk mewahabikan umat Islam Indonesia tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Para aktifis wahabisme cukup agresif dalam mengkampanyekan pikiran-pikiran dan ideologi para imamnya. Mereka bukan hanya memekikkan khutbah wahabisme dari dalam masjid-masjid mewah di kota-kota besar seperti Jakarta, melainkan juga blusukan ke pedalaman dan dusun-dusun di Indonesia. Ada tengara bahwa orang-orang yang berhimpun dalam ormas keagamaan Islam moderat pelan tapi pasti kini mulai terpengaruh dan terpesona dengan gagasan-gagasan wahabisme yang sebagian besar berjangkar pada pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab.

Memang, pada awalnya wahabisme berdiri untuk merampingkan Islam yang sarat beban kesejarahan. Ia ingin membersihkan Islam dari beban historisnya yang kelam, yaitu dengan cara mengembalikan umat Islam kepada induk ajarannya, al-Qur'an dan al-Sunnah. Seruan ini mestinya sangat positif bagi kerja perampingan dan purifikasi itu. Tapi, ternyata wahabisme tidaklah seindah yang dibayangkan. Di tangan para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab yang fanatik dan militan, implementasi ideologi wahabisme kemudian terjatuh pada tindakan kontra produktif. Di mana-mana mereka menyebarkan tuduhan bid'ah kepada umat Islam yang tidak seideologi dengan mereka. Bahkan, tidak jarang mereka mengkafirkan dan memusyrikkan umat Islam lain.

Kini mereka mulai merambah kawasan Indonesia, melakukan wahabisasi di pelbagai daerah. Mereka mencicil ajaran-ajarannya untuk disampaikan kepada umat Islam Indonesia. Ada beberapa ciri cukup menonjol yang penting diketahui dari gerakan wahabisasi itu. Pertama, mereka mempersoalkan dasar negara Indonesia dan UUD '45. Mereka tidak setuju, Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini dipandu oleh sebuah pakem sekular, hasil reka cipta manusia yang relatif bernama Pancasila. Menurut mereka, Pancasila adalah ijtihad manusia dan bukan ijtihad Tuhan. Semboyan mereka cukup gamblang bahwa hanya dengan mengubah dasar negara, dari Pancasila ke Islam, Indonesia akan terbebas dari murka Allah. Mereka lupa bahwa Pancasila mengandung nilai-nilai yang sangat Islami. Tak tampak di dalamnya hal-hal yang bertentangan dengan Islam.

Kedua, mereka menolak demokrasi karena demokrasi dianggap sebagai sistem kafir. Mereka menolak dasar-dasar HAM yang sesungguhnya berpondasikan ajaran Islam yang kukuh. Mereka mengajukan keberatan terhadap konsep kebebasan beragama, kebebasan berpikir, dan sebagainya. Menurut mereka tidak ada hak asaski manusia (HAM), yang ada hanyalah hak asasi Allah (HAA).

Ketiga, mereka berusaha bagi tegaknnya partikular-partikular syariat dan biasanya agak abai terhadap syariat universal, seperti pemberantakan KKN dan sebagainya. Ini misalnya tampak dari sikap tidak kritis kelompok wahabi terhadap ketidakberesan yang telah lama berlangsung di lingkungan kerajaan Saudi sendiri, sistem pemerintahan yang disokong demikian kuat oleh kelompok Wahabi. Kelompok Wahabi cukup puas ketika shalat berjemaah diformalisasikan. Sementara, bersamaan dengan itu, kejahatan terhadap kemanusiaan terus berlangsung, tanpa interupsi dari mereka.

source : http://www.aziznawadi.net/catatan/busuk.html
Read More...

FPI Tidak Membela Islam

Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, MA.

"There was no tradition of religious persecution in the Islamic empire"
Tidak ada tradisi persekusi dalam sejarah Islam. (Karen Armstrong)

Baginda Rasul tidak pernah mengutus Saidina Mua'dz bin Jabal ke Yaman sebagai seorang persekutor, akan tetapi sebagai penebar kedamaian dan kesejahteraan. Sebagai pengenal tentang toleransi Islam dan tentang Rasul yang hanya terutus untuk mengasihi alam. Apabila kemungkaran telah merajalela, maka Islam pun tidak akan pernah kehilangan hikmahnya, ia agama yang penuh kebijaksanaan, ia mampu merubah kekejian dengan hati, lidah maupun lisan. Islam anti ekstrimisme, Islam tidak brutal, Islam tidak anarkis, Islam tidak teroris dan Islam tidak mengenal mereka yang bertakbir dengan suara keras sementara hati buta terhadap kebesaran Tuhan !!

Awalnya, penulis prihatin melihat realita yang menyesakkan nafas dunia, namun seiring dengan lahirnya pendekar-pendekar kesiangan, penulis justru menggelengkan kepala seraya mempertanyakan latar belakang kependekaran tersebut. Mengapa bumi yang kering dan haus akan kesegaran air langit malah dihujani darah-darah menyeramkan?! Bumi Tuhan yang mengemis kasih sayang malah disedekahi peluru dan bebatuan !! Bukan hanya musuh Islam yang kerisihan, umat Islam pun merasa ketakutan, bahkan seluruh jagad raya tak lagi menikmati kenyamanan.

Percaya atau tidak, FPI, IM, HT, NII dan yang sehaluan, sama-sama mengidamkan kalimat Allah menjadi yang tertinggi, dan kalimat orang-orang kafir menjadi yang terkubur. Akan tetapi bertahun-tahun lamanya kelompok-kelompok itu bertualang, tidak ada hasil yang semakin menjadi-jadi selain Islam menjadi agama yang tercemar. Islam tak lagi mengembara dengan hikmah serta mau'izah hasanahnya, akan tetapi Islam sudah ditenggelamkan dalam lautan darah yang dipenuhi ikan hiu, dan ikan-ikan hiu itu masih saja liar dan mengomandokan "Seek and Destroy" !! Semua makhluk yang kontra terhadap ikan-ikan hiu itu harus dibasmi dan dibunuh demi sebuah angan-angan hampa dan keotoriteran yang tak kenal batasnya. Hanya Allah yang Maha Tahu, semoga saja ini sekedar kesalahpahaman penulis tentang visi dan misi serta manhaj mereka.

Perbedaan persepsi tentang trik-trik mengubah kemungkaran sebagaimana yang dituntun Islam adalah sebab utama terjadinya goncangan tersebut. Namun meski perbedaan pola pikir itu sudah menjadi keniscayaan, maka perbedaan agama, aqidah dan kepercayaan pun lebih niscaya dan lumrah, sehingga tidaklah patut menerapkan pemaksaan kehendak di tengah-tengah masyarakat yang sedang memerlukan naungan. Terjadinya pengendoran aqidah pun janganlah dibalas dengan kekerasan, sebaiknya aqidah itulah yang dikukuhkan kembali dengan upaya yang lebih fair dan sportif. Akan lebih indah jika penyesatan itu musnah dengan sendirinya daripada diakhiri secara paksa, sebab pengakhiran secara paksa itu disamping berani menentang sunnah Tuhan, ia akan menghembuskan angin-angin permusuhan yang lebih sangar dan brutal dimasa mendatang.

Sebagaimana Rasulullah Saw. yang enggan menghancurkan patung-patung sesembahan jahiliyah, konsentrasi beliau saat itu hanyalah menanamkan tauhid dalam keyakinan para sahabat, sehingga patung-patung itu walau masih berdiri tegak mengelilingi ka'bah namun telah membangkai dengan sendirinya (tak ada satupun menyembahnya). Rasulullah Saw. tidak perlu membunuh para "penjahat", beliau yakin bahwa membunuh "kejahatan"lah yang lebih tepat. Kita tidak perlu membunuh atau mengubur hidup-hidup "orang-orang kafir", lebih indah bila "kekufuran" itulah yang disiksa mati-matian. Itulah rahasianya mengapa hati menjadi alat terkuat untuk mengubah kemungkaran dan bukan yang terlemah sebagaimana penafsiran banyak orang !!

Rasa cinta sesama muslim telah menjadi bagian yang amat signifikan dalam diri dan hati penulis. Tidak ada kata benci untuk siapapun yang berbeda dengan penulis. Dan memang tidak efektif apa yang penulis sampaikan dalam catatan ini. Hanya saja, pesan ikhlasku, marilah kita benahi kembali apa yang telah menjadi santapan sehari-hari, jikalau ada racun yang tersmbunyi, kita buang dengan senyum dan senang hati. Jikalau Roy salah, biarlah Muhammad yang memperbaiki, janganlah Roy disiksa sampai mati. Bila Roy ngeyel dan ngotot bela diri, pasrahlah kepada Ilahi Robbi, masih banyak yang perlu dan mau diobati. "Fa'in azamta fatawkkal alallah". "Wama alaika illal-balagh".

source : http://www.aziznawadi.net/catatan/fpi.html
Read More...

Bahaya Cadar !!!

Bahaya Cadar Bagi Wanita Muslimah
Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, MA.

"Cadar, sehelai kain yang tak relevan", demikian ungkap Siti Muthaharoh, mahasiswi al-Azhar, saat presentasi di IKSA (Ikatan Keluarga Santri al-Ihya' Ulumiddin) Mesir, Kamis 30 Oktober 2008 yang lalu.

Siti Muthaharoh menjelaskan: "Bukan saatnya lagi memperdebatkan hukum memakai cadar bagi wanita muslimah. Sudah disepakati jumhur ulama bahwa cadar tidak wajib dipakai. Wajah wanita tidaklah aurat, begitu juga tangannya, demikian pula suaranya. Dalam shalat yang merupakan tiang agama, wanita tidak diharuskan memakai cadar. Bahkan dalam ibadah haji, justru diharamkan bagi wanita memakai cadar dan sarung tangan. Padahal, ketika haji dilaksanakan, percampuran laki-laki dan perempuan terjadi secara besar-besaran dan di lokasi yang amat sempit. Bagi mereka yang bercadar dengan alasan mencegah fitnah dan godaan laki-laki, bukankah dalam ibadah haji fitnah dan godaan itu lebih dikuatirkan?!" tandasnya.

"Di sisi lain, kalau memang cadar dipakai untuk mencegah fitnah dan godaan laki-laki iseng, maka kaum laki-laki sebetulnya lebih pantas memakai cadar. Al-Qur'an menceritakan Siti Zulaikha yang terus-menerus menggoda Nabi Yusuf dan sejumlah wanita yang memotong tangannya -tanpa sadar- saat melihat wajah ganteng beliau. Tidak ada perintah ataupun sebatas anjuran bagi Nabi Yusuf untuk memakai cadar!! Dan di akhir zaman ini wanita lebih banyak dan lebih iseng terhadap laki-laki. Tidak ada satupun laki-laki yang perlu pakai cadar!!" imbuhnya.

"Terdapat beberapa kritikan, asumsi dan tanda tanya lain yang cukup menarik dari pihak laki-laki tentang cadar, di antaranya apakah wanita yang bercadar su'uzzon sejauh itu terhadap laki-laki di sekitarnya sehingga mamakai cadar?! Di tempat lain akan ditemukan pula sejumlah laki-laki mengeluh karena hendak menikah dan melakukan khitbah atau mukadimah khitbah, namun kesulitan sekali sebab mayoritas wanita di hadapannya bercadar!! atau mungkin saja wanita yang dicarinya kebetulan bercadar!! Karena dalam mazhab Syafi'i disyariatkannya mukadimah khitbah agar tidak mengecewakan kaum hawa, maka cadar adalah salah satu penghalang terjadinya mukadimah khitbah dan salah satu sebab yang dapat mengecewakan kaum wanita" ujarnya menambahkan.

Siti Muthaharoh akhirnya menutup presentasinya seputar cadar dengan sebuah pernyataan: "Apapun asumsi orang, cadar tetaplah kain yang tidak dianjurkan (tidak diwajibkan) Islam. Cadar tetaplah kain yang dilarang (diharamkan) Islam di saat pelaksanaan upacara ritual yang paling riskan (haji)! Semoga dapat menjadi bahan renungan".

Syeikh Muhammad Sayyid Thanthawi pun selaku guru besar universitas al-Azhar Mesir menegaskan bahwa cadar itu tidak ada hubungannya dengan Islam, cadar hanyalah tradisi Arab klaisk dan sama sekali bukan bagian dari ajaran Islam. Berikutnya, Prof. Dr. Abdul Mu'thi al-Bayyumi, Anggota Dewan Riset al-Azhar, mengingatkan bahwa "Taliban-lah yang telah memaksa perempuan untuk mengenakan cadar. Fenomena ini telah menyebar dan menjadi tren, dan itu harus kita hadapi. Waktunya telah tiba!.".

Nah, pada halaman ini, penulis hanya ingin menambahkan sejumlah efek samping dan marabahaya yang diakibatkan cadar dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Pernyataan ini sepenuhnya penulis kutip dari sebuah kitab berjudul "Al-Wahhabiyyah wa al-Shufiyyah wa al-Muqaddasat" terbitan Dewan Penelitian dan Pengembangan Thariqah Azmiyah di Mesir. Mari kita simak bersama bahaya-bahaya cadar tersebut :

Pertama, cadar secara sistematis dapat memutuskan tali silaturrahmi, karena seseorang tak dapat mengenal isteri-isteri paman-pamannya maupun saudari-saudari isterinya, sehingga jarak antar sesama keluarga menjadi semakin menjauh.

Kedua, cadar sangat membatasi dan menodai kelancaran interaksi sosial, karena Imam Ali pernah menyatakan bahwa "Tidaklah seseorang menyembunyikan sesuatu dalam hatinya kecuali akan tampak melalui tutur kata dan raut wajahnya". Selanjutnya, jikalau terjadi kasus atau kecelakaan, bagaimana dapat mengenal profil wanita yang terlibat apabila ia bercadar?! Bukan hanya itu, Imam Ahmad bin Hanbal menfatwakan: "Apabila seorang laki-laki berniaga bersama seorang wanita, maka ia harus memandang wajahnya agar lebih mengenalinya". So, sekali lagi, cadar adalah penghambat dan pengganggu kelancaran interaksi sosial.

Ketiga, cadar dapat membebaskan pemakainya melakukan hal-hal terlarang, sebab seorang wanita tak bercadar ia senantiasa berhati-hati terhadap pengawasan masyarakat sekitar. Beda halnya seorang pecandu cadar yang tak dapat dilihat siapapun, ia bisa saja melakukan apapun, kapanpun dan dimanapun.

Keempat, cadar tidak selalu mendukung keamanan dan kenyamanan, sebab pengkhianatan rumah tangga marak terjadi akibat penyalahgunaan cadar, semisal perselingkuhan berantai di Saudi dan juga Mesir.

Kelima, cadar menciptakan sebuah doktrin bahwa pemeliharaan pandangan mata bersifat mustahil, dan seakan-akan setiap laki-laki pasti hendak berzina apabila melihat wajah lawan jenisnya. Hal ini tentunya kontra dengan fithrah agama.

Keenam, cadar cukup mendukung berkembangnya penyakit homoseksual, dimana penyakit tersebut dapat berkembang dengan dua sebab yaitu :
a) Adanya pembatas yang amat tebal antara pria dan wanita, dan
b) Dahsyatnya free sex sehingga membuat seseorang ingin menyicipi sesama jenisnya.
Tentunya penyakit homoseksual sangatlah minim bahkan hampir tidak ada dalam masyarakat yang moderat tanpa adanya pembatas-pembatas yang keterlaluan dan tanpa adanya kebebesan fatal dalam pergaulan.

Ketujuh, menurut riset kedokteran, cadar dapat melemahkan paru-paru dan mata, sebab pengguna cadar cukup banyak menghirup karbon dioksida sehingga mengakibatkan paru-paru asma. Di waktu yang sama, uap pernafasan yang keluar dari dalam mulut dan hidungnya naik ke atas sehingga amat berbahaya bagi kesehatan mata. Dan sudah banyak buktinya!

Pembaca yang budiman, mari kita resapi hikmahnya mengapa Islam tak meng-aurat-kan wajah wanita. Pada ujungnya, Islam agama yang memudahkan dan menyelamatkan, bukan agama yang mempersulit dan mengecewakan..!! Wallahu Ta'ala A'lam.

http://www.aziznawadi.net/catatan/cadar.html
Read More...

Gus Dur Mau Daur Ulang

Nusron Wahid sering sowan Gus Dur. Tapi tak jarang Gus Dur tidak mau menerima Nusron. Alasannya macam-macam, Gus Dur pandai membuat alasan.
Suatu hari, Nusron datang ke ruang kerja Gus Dur di PBNU.
“Salam, Gus. Saya Nusron Wahid, ketua PMII,” kata Nusron dengan takdim.
“Mau apa Sampean? Keluar saja sana. Sampah Sampean,” bentak Gus Dur pada Nusron.
Keluarlah Nusron dari ruangan Gus Dur dengan lesu. Tapi, keesokan harinya, Nusron datang lagi.
“Salam, Gus. Kulo Nusron Wahid, ketua PMII,” kata Nusron, lebih takdim dari sebelumnya.
“Mau apalagi Sampean? Kok ndak kapok-kapok? Dasar sampah! Pergi sana!” Gus Dur membentak lebih keras lagi.
Kali ini Nusron tidak pergi, tapi malah menjawab bentakan Gus Dur dengan penuh tawadlu:
“Njih Gus, kulo memang sampah, Gus. Tapi sampah kan bisa didaur ulang, Gus?”
Gus Dur merespon jawaban Nusron, “Oh gitu ya, bener juga Sampean. Sampah memang bisa didaur ulang. Ya sudah, silakan duduk. Ada apa? (Hamzah Sahal)

source : http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/8/34965/Humor/Gus_Dur_Mau_Daur_Ulang.html
Read More...

Al-Habib Abdurrahman Wahid dan Kerendahan Hatinya

Al-Habib Abdurrahman Wahid dan Kerendahan Hatinya
Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, MA.

Sudah tidak bisa dipungkiri lagi, Gus Dur adalah sang guru bangsa yang lebih mencintai bangsanya daripada dirinya sendiri. Toleransi, moderatisme, kedamaian, demokrasi, keadilan, dan masih banyak lagi benih-benih mulia yang ditebarkan Gus Dur -tanpa pamrih- di Tanah Air dan dunia. Jasa-jasa agung Gus Dur tidak hanya dirasakan warga Nahdliyin dan umat Islam saja, tapi juga dinikmati umat manusia di seluruh penjuru dunia, dari berbagai suku, ras, dan agama. Tentunya orang-orang yang beraliran beku dan keras saja yang berbeda dengan beliau. Jutaan pena telah menulis fakta mengagumkan ini, terlalu boros dan membuang waktu jika penulis masih memperkenlkan Sang Gus Dur ke para pembaca. Namun, satu hal yang sangat menarik dan cukup jarang dilirik para pecinta Gus Dur adalah, disamping berdarah biru, ternyata -menurut sejumlah sumber akurat- beliau juga seorang habib yang berdarah suci. Nasab beliau bersambung hingga Rasulullah Saw. melalui Imam al-Husain Ra. Suatu keistimewaan yang tak biasa, namun itu pulalah keluarbiasaan Habib Abdurrahman Wahid yang sama sekali tidak suka memamerkan siapa dirinya!.

Tidak sedikit golongan habaib yang nampak sangat fanatik terhadap nasabnya; selalu berpenampilan habib (Arabis) dan lebih mendahulukan sesama habibnya dalam setiap kepentingan sosialnya, terutama dalam hal pernikahan; masih sering dianggap tabu apabila sang syarifah menikah dengan yang bukan habib. Ironisnya, fanatisme itu terkadang lebih menonjol dari orang-orang keturunan Arab yang bukan habaib / alawiyyin (keturunan Rasul) tapi sekedar qabail (keturunan para sultan dan angkatan bersenjata Arab kuno) saja. Memang amat sangat baik memelihara nasab yang mulia, akan tetapi Sang Habib Abdurrahman Wahid, seperti yang kita kenal, toleransi beliau sungguh luar biasa!.

Keturunan darah yang suci tidak selalu menjamin kesucian seseorang tanpa mengikuti jejak-jejak suci yang dituntun Sang Baginda Yang Suci. Itulah yang sangat dipahami Habib Abdurrahman Wahid yang selalu benar memehami sejarah. Sejarah Nabi Adam dan Nabi Nuh sudah terlalu cukup untuk dipelajari agar tidak berlebihan mengandalkan nasab. Bahkan Rasulullah Saw. sendiri mengajarkan cucu-cucu beliau agar tidak fanatik terhadap nasabnya. Syarifah (keturunan Quraisy) Zainab binti Jahsy beliau nikahkan dengan Saidina Zaid bin Haritsah yang bukan habib. Syarifah Fathimah binti Qais beliau nikahkan dengan Saidina Usamah bin Zaid yang bukan habib. Saidina Bilal bin Rabah yang bukan habib (keturunan Quraisy) menikah dengan saudarinya Habib Abdurruhman bin Auf. Bahkan putri Rasulullah Saw. sendiri dinikahkan secara resmi dengan Saidina Utsman bin Affan yang keturunan Abdu Syams. Habib Ali bin Abi Thalib suami Syarifah Fathimah az-Zahra' pun menikahkan putri beliau Syarifah Ummu Kultsum dengan Saidina Umar bin al-Khatthab yang bukan habib. Semua itu karena Rasulullah Saw. sendiri berpesan "Pilihlah pasangan hidup karena agamanya, maka itu sudah cukup bagimu". Adapun harta, kecantikan / kegantengan, dan keturunan, itu nomor sekian!.

Di kesempatan lain Rasulullah Saw. juga menegaskan: "Tiada kemuliaan bagi orang Arab dihadapan orang luar Arab kecuali dengan takwa". Sabda inipun dipahami dengan baik dan benar oleh Habib Abdurrahman Wahid yang sangat prihatin terhadap fenomena Arabisasi di Indonesia. Padahal, beliau yang tulen keturunan Arab bahkan keturunan manusia tersuci sejagat raya pun biasa-biasa saja; tidak suka mengayunkan sorbannya dihadapan umat jelata, dan dihadapan umat non-muslim pun tetap tampil toleran dan sederhana.

Habib Abdurrahman Wahid juga sadar bahwa tidak hanya silsilah nasab legal yang membuat seseorang menjadi habib. Lagi-lagi Habib Abdurrahman Wahid adalah penguasa sejarah. Saidina Shuhaib, Saidina Salman, Saidina Bilal, dan juga sahabat-sahabat lain yang sama sekali bukan keturunan Hasyim dan Quraisy ternyata resmi meraih gelar habib langsung dari Rasulullah Saw., sebab kehabiban bukan hanya diperoleh melalui silsilah nasab, akan tetapi lebih pasti diraih melalui keimanan dan ketakwaan, karena seseorang yang bertakwa telah mengikuti jejak Rasul sehingga disebut al yang artinya cenderung, maka Alul Bait adalah orang-orang mulia karena selalu cenderung pada jejak Rasul. Al-Qur'an juga menegaskan bahwa putra Nabi Nuh yang 100% berdarah ayahnya, ternyata tidak pantas dikatakan al atau ahl-nya karena tidak mengikuti jejaknya. Allah berfirman: "Sesungguhnya ia bukan dari keluarga (ahl)-mu, karena apa yang ia lakukan bukanlah perbuatan yang mulia".

Di negeri Mesir saja, sebuah tanah Arab yang dipenuhi makam-makam Ahlul Bait, para habaibnya (di Mesir dujuluki dengan Asyraf) tidak selalu memakai jubah dan sorban sebagaimana yang nampak di negeri asing seperti Indonesia. Sayyid Mahmud Ahmad Husain as-Syarif sebagai Ketua habaib se-Mesir pun begitu gagah menampilkan kelapangan dada dan pikirannya dengan senantiasa berjas, berdasi, dan tanpa menutupi kepalanya. Ketua habaib se-Mesir itu seakan mengingatkan bahwa habib yang budiman adalah yang menghargai budaya setempatnya, bukan yang memamerkan budaya Saudi dan Yaman di setiap negara asing yang dikunjunginya!.

Habib Abdurrahman Wahid yang lebih akrab disapa Gus Dur juga lahir dari keturunan yang sangat berpengaruh di zamannya. Dikabarkan bahwa dari garis ibu, leluhur Habib Abdurrahman Wahid adalah dari keturunan Cina yang bermarga Tan, yaitu Tan Kin Ham, seorang panglima perang yang membantu Raden Patah mengalahkan kerajaan Majapahit, yang dikenal juga dengan nama Syaikh Abdul Qodir as-Shini yang dimakamkan di Trowulan Mojokerto Jawa Timur. Ada juga sumber menyatakan bahwa Habib Abdurrahman Wahid adalah keturunan dari Sunan Kalijaga dan Syaikh Siti Jenar. Konon Sunan Kalijaga menikah dengan putrinya Syaikh Siti Jenar, dan dari pernikahan itulah leluhur Habib Abdurrahman Wahid dilahirkan. Namun pada silsilah nasab yang sampai kepada Rasulullah Saw., Habib Abdurrahman Wahid adalah keturunan Jaka Tingkir dan Sunan Giri.

Walhasil, Habib Abdurrahman Wahid adalah manusia berdarah luar biasa. Tak heran mengapa beliau menjadi pahlawan bangsa sekaligus ulama terkemuka yang juga luar biasa. Namun itulah kerendahan hati seorang habib yang sesungguhnya, sehingga orang-orang awam tidak mudah mendeteksi kemuliaannya!.

Umat merindukanmu, Habib!.

source : http://www.aziznawadi.net/catatan/habib.html
Read More...

Tukar Link Otomatis

Sangpecinta: www.facebook.com/anti.wahabi ::: Santun Menyejukkan:::

video

no video list

Labels

Posting Terbaru

Menu Blog

Arsip Blog

Top Comments