Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Thariqat dan Doa-doa Gus Dur

PADA AWALNYA, shalawat atas Nabi dianggap sebagai doa bagi Nabi, karena kecintaan kepadanya. Akan tetapi dalam perjalanannya ia kemudian dipandang sebagai puji-pujian dan penghormatan untuk Nabi yang hidup di samping Tuhan. Praktik ini memperoleh legitimasi dari kitab suci Al-Qur’an.
Tuhan mengatakan, “Jika engkau mencintai Tuhan, maka ikutilah Nabi. Maka Tuhan akan mencintaimu," Dan bukan hanya manusia yang dianjurkan Tuhan untuk membaca salawat (penghormatan) untuknya, melainkan juga Tuhan sendiri dan para Malaikat. Tuhan mengatakan :

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِى يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّو عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْماً

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.S. Al-Ahzab [33]:56).

Shalawat dianggap syarat penting agar doa dikabulkan. “Permohonan (doa) akan dianggap berada di luar pintu langit sampai orang yang berdoa itu mengucapkan shalawat untuk Nabi.”

Penyair Turki abad pertengahan, Asyiq Pasha, mengingatkan orang-orang senegerinya tentang eksistensi primordial Nabi Muhammad saw, yang menjadi suatu segi yang begitu penting dalam profetologi mistikal:

Nabi Adam masih berupa debu dan lempung Sayyidina Muhammad telah menjadi Nabi. Dia telah dipilih Tuhan, ucapkan shalawat untuknya(Annemarie, Dan Muhammad adalah Utusan Tuhan, hlm. 145).

Kaum sufi di manapun berada selalu membaca shalawat berkali-kali baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama dalam jama’ah (kumpulan/kelompok), untuk mengantarkan permohonannya kepada Tuhan. Mereka gemar sekali menyenandungkan do’a shalawat itu dalam bentuk puisi-puisi yang indah. Annemarie Schimmel, pakar mistisisme Islam, pengagum berat Ibn Arabi dan Rumi, menginformasikan bahwa di beberapa kalangan Afrika Utara orang bisa  mendatangi pertemuan-pertemuan shalawat di mana orang itu ikut serta dalam doa bersama untuk Nabi dan berharap agar permintaan yang diucapkan dalam pertemuan semacam itu akan segera dikabulkan. Salah satu do’a shalawat yang popular di sana adalah Doa Pelipur Cordova. (Annemarie, hlm. 143).

“Wahai Allah, berkahilah dengan berkah yang istimewa tuan kami, Muhammad, yang olehnya segala kesulitan terpecahkan, segala kesedihan terhiburkan, segala masalah terselesaikan, yang melaluinya hal yang diinginkan dapat dicapai dan yang dari air mukanya yang mulia awan meminta hujan, dan berkahilah keluarganya dan sahabat-sahabatnya”.

Betapa pentingnya shalawat atas Nabi saw untuk mengawali do’a kepada Tuhan, mengingatkan saya pada Qasidah Burdah, karya sufi penyair Imam Bushairi. Bushiri, sastrawan sufi legendaries abad ke 13, menulis kasidah ini ketika dia mengalami sakit berkepanjangan, stroke.

Sepanjang hari sepanjang malam dia berdoa sampai begitu lelah dan tertidur. Suatu malam ia bermimpi bertemu nabi. Nabi yang mulia mengusapkan tangannya ke wajah Bushairi lalu menyerahkan selendangnya (burdah). Bushairi terjaga dari mimpinya dan melihat dirinya tak lagi sakit.  Semula kumpulan Nazham (puisi-sajak) dengan akhir huruf mim (karena itu biasa disebut ;  Al-Mimiyah) diberi judul panjang: Al-Kawakib al-Durriyyah fi Mad-hi Khairi al-Bariyyah (Bintang-Gemintang berpendar gemerlap yang memuji Manusia Paripurna). Akan tetapi karena terlalu panjang hingga menyulitkan orang menyebut dan mengingatkannya, maka diambillah kata “Al-Burdah al-Bushiri” (selimut atau selendang).

Ketika saya di ke Iskandariyah, Mesir, tahun 1982, saya menyempatkan diri ziarah dan berdo’a di pusara penyair sufi besar ini, tidak jauh dari makam sufi besar; Said Mursi. Di pesantren, saya sempat menghapalnya meski serba sedikit. Tetapi banyak santri yang hapal di luar kepala. Di Universitas Kairo, kasidah ini diajarkan pada setiap hari Kamis dan Jum’at.

Di bawah ini adalah beberapa saja dari bait puisi Bushairi yang seluruhnya berisi 160 bait, yang masih saya hapal. Sebuah Puisi yang memperlihatkan kerinduan Bushairi kepada Nabi Saw. Kasidah ini didendangkan dengan bahar(nada dan ritme) Basith : Mustaf’ilun fa’ilun.


أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِى سَــــلَمٍ    مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَى مِنْ مُقْلَةٍ بِـــدَمِ
أَمْ هبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ تِلْقَاءِ كَاظِمَـــةٍ    وأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِي الظَّلْمَاءِ مِنْ إِضَـمِ
فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَا هَمَتَــا    وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِــــمِ
أَيَحْسَبُ الصَّبُّ أنَّ الْحُبَّ مُنْكَتِـــمٌ    مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمُضْطَّــــــرمِ
لَوْلَا الْهَوَى لَمْ تُرِقْ دَمْعاً عَلَى طَـلَلٍ    وَلَا أرقْتَ لِذِكْرِ البَانِ والعَلــــمِ
فَكَيْفَ تُنْكِرُ حُبّاً بَعْدَ مَا شَــهِدتْ    بِهِ عَلَيْكَ عَدُوْلُ الدَّمْعِ وَالسَّــــقَمِ
وَأَثْبَتَ الوَجْدُ خَطَّيْ عَبْرةٍ وَضَــنىً    مِثْلَ البَهَارِ عَلى خَدَّيْكَ وَالْعَنَــــمِ
نَعَمْ سَرَى طَيْفُ مَنْ أَهْوَى فَأَرَّقَـنِي    وَالْحُبُّ يَعْتَرِضُ اللَّذَّاتَ بِالْأَلَــــمِ
يَا لَائِمِي فِي الْهَوَى الْعُذرٍيِّ مَعْذِرَةً    مِنِّي إِلَيْكَ وَلَوْ أَنْصَفْتَ لَمْ تَلُــــمِ
Aduhai, apakah karena kau rindu
pada tetangga di kampung Dzi Salam
Air bening menetes satu-satu
Dari sudut matamu
Bercampur darah

Ataukah karena semilir angin
yang berhembus
dari Kadhimah
Dan kilatan cahaya
dalam pekat malam

Apakah kekasih mengira
Api cinta yang membara di dada
Dapat dipadamkan air mata?
Andai bukan karena cinta
Puing-puing tak mungkin basah airmata

Andai bukan karena cinta
Matamu tak mungkin jaga sepanjang malam
Membayangkan keindahan gunung gemunung
Dan semerbak pohon kesturi
Dan tinggi semampai pohon pinus

Mana mungkin kau ingkari cintamu
Padahal ada saksi menyertaimu
Ketika air matamu berderai-derai
Dan kau jatuh sakit begitu memelas
Dukamu menggoreskan
Tetes air mata dan luka
Bagai mawar kuning dan merah
Pada dua pipimu yang ranum

Ya, aku melihat kekasihku
Berjalan ketika malam muram
Hingga mataku selalu terjaga
Cinta telah mengganti riang jadi nestapa


Seluruh do’a, dzikir dan shalawat atas Nabi ditujukan kepada Allah, hanya kepada Dia, tidak kepada yang lain, termasuk tidak kepada Nabi Muhammad Saw. Karena hanya Dialah Pemilik segala, hanya Dialah Penguasa atas semesta raya dan hanya Dialah Yang mengabulkan segala permohonan hamba-hamba-Nya.

Dialah Titik Pusat dari segala. Pengaduan kepada manusia, siapapun dia, akan kegundahan dan curahan hati karena kemelut hidup yang acap kali datang menghempaskan jiwa dan pikiran, seringkali mengecewakan. Mereka tak mampu memberi jalan terang, dan tak bisa menjawab kebutuhan-kebutuhan yang terus dan terus mengalir bagai air yang sangat deras. Mereka acapkali juga sibuk dengan urusan dan kegalauannya sendiri-sendiri. Mereka juga membutuhkan kepentingan hidup yang juga terus mengejar mereka siang dan malam. Tetapi tidak bagi Tuhan. Dia tidak membutuhkan apa-apa dan siapa-siapa. Sebaliknya Dialah Yang selalu Memberi. Dia bahkan amat senang jika hamba-hamba-Nya meminta.

Gus Dur pastilah sangat mengenal bait-bait puisi Burdah al-Bushiri di atas, bahkan sebagian atau semuanya mungkin dihapal dengan baik. Saya meyakini hal itu pada Gus Dur, karena kedua Qasidah Burdah di atas amat popular di kalangan para santri.
Mereka menghapalnya lalu mendendangkannya dengan nada-nada lagu yang indah dalam acara-acara yang relevan. Hal yang sama juga dilakukan mereka dalam Burdah Madaih atau Na’tiyah, karya Ka’ab bin Zuhair. Burdah ini berisi penghormatan dan pujian kepada Nabi. Ia dikenal dengan Qasidah “Banat Su’ad” (putri-putri Su’ad). Ini karena Qasidah Burdah yang terdiri dari 58 bait ini diawali dengan kalimat :

بانتْ سُعادُ  فقلبي اليومَ متبولُ ...      مُتيمٌ إثرها، لْم يُفدَ مكبُولُ

Ka'ab Bin Zuhair, adalah seorang penyair terkenal pada masanya. Ia suka sekali mencacimaki Nabi. Sikap itu membuat hidupnya jadi galau. Ia lalu menemui Nabi dan menyanyikan kasidah tersebut di hadapan beliau. Nabi begitu senang mendengarnya, lalu memberinya selendang (burdah) yang sedang dikenakannya. Kiai Sa’id Aqil Siraj, ketua umum PBNU, sering menyanyikan puisi-puisi ini manakala memberikan pengajian umum di berbagai pesantren dan pada komunitas warganya: Nahdlatul Ulama. Ia hapal di luar kepala kedua qasidah burdah itu.

Sebagian orang, sebut saja antara lain kelompok Wahabi di Saudi Arabia, menyebut “tawassul” dengan salawat seperti ini sebagai praktik kemusyrikan (menyekutukan Tuhan). Tawassul, menurut mereka berarti meminta kepada manusia, meskipun ia seorang Nabi dan kekasih-Nya, bukan kepada Tuhan. Kita telah maklum Wahabi adalah kelompok tekstualis. Mereka memaknai segala teks secara harfiyah, dan tidak setuju dengan pemaknaan metaforis (majaz) dan aforisme-aforisme sufistik. Biarkan saja, tak mengapa. Itu hak mereka. Dan itu menunjukkan batas pengetahuan mereka. Tetapi kita tentu amat menyesalkan bila kemudian mereka memaksakan pandangannya kepada orang lain, melalui cara-cara kekerasan, “hate speech” atau bahkan dengan menghunuskan pedang atau meledakkan bom.

Tawassul dan do’a-do’a Gus Dur itu kini telah menyebar di mana-mana, dikasetkan , di CD kan, di Youtube kan, atau disimpan di HP, diputar berulang-ulang, didengarkan dengan penuh khusyu’ di kendaraan-kendaraan pribadi, dan dilantunkan para pengagumnya di berbagai kesempatan menghormat atau mendiskusikan Gus Dur. Beliau menyanyikannya dengan nada-nada elegi dini yang sendu, bagai sembilu yang menyayat-nyayat qalbu. Bait-bait do’a, salawat dan tawasul yang disenandungkan Gus Dur itu sesungguhnya tidaklah asing bagi para santri. Ia telah berabad ditembangkan di pesantren-pesantren dan surau-surau. Suara Gus Dur memang tak semerdu suara Hadad Alwi atau Abdul Halim Hafiz, penyanyi kondang dari Mesir atau lainnya. Tetapi lantunan Gus Dur, meski  bersahaja, terasa memiliki makna keindahan mitis dan magis yang menghunjam qalbu dan menyimpan rindu-rindu. Ini tentu karena Gus Dur melantunkannya dengan suara hatinya yang bening dan ketulusan cintanya yang penuh.

Di bawah ini adalah doa-doa yang selalu dibaca Gus Dur di samping do’a-do’a yang lain. Semua orang pesantren dan kaum Nahdliyyin mungkin sudah tahu atau bahkan hapal doa-doa itu. Doa-doa ini seluruhnya mengandung permohonan ampunan Tuhan. Do’a pertobatan yang secara literal berarti kembali kepada Tuhan. Ada juga di dalamnya yang memohon petunjuk ke arah jalan lurus (amal saleh) dan anugerah ilmu yang bermanfaat. Sebagian ada yang diawali dengan tawassul melalui Al-Musthafa, Nabi Muhammad Saw. Doa yang terakhir konon ditulis oleh Abu Nawas, sang cendikiawan dan sastrawan terkemuka yang jenaka tetapi amat cerdas itu. Hampir semua orang mengenal cerita-cerita jenaka orang ini dan mendongengkannya kepada anak-anak mereka, terutama menjelang tidur. Ia, ketika muda, konon, pernah menjalani kehidupan glamor, mabuk dan urakan, tetapi cara itu kemudian disadarinya akan mencelakakannya kelak. Tahun-tahun terakhir hidupnya Abu Nawas bertobat dan menjalani hidupnya sebagai seorang zahid, asketik.

Dengan doa-doa itu, kita tentu paham bahwa Gus Dur selalu mohon ampunan kepada Tuhan. Para Nabi, orang-orang arif, kaum sufi dan orang-orang yang rendah hati setiap hari mohon ampunan-Nya, ratusan dan ribuan kali.

Doa Pertobatan 1

مَوْلاَىَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًا اَبَدًا
عَلَى حَبِيْبِكَ خَيْرَ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ
يَا رَبِّ بِالْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا
وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ اْلكَرَمِ
هُوَ الْحَبِيْبُ الَّذِى تُرْجَى شَفَاعَتْهُ
لِكُلِّ هَوْلٍ مِنَ الْاَهْوَالِ مُقْتَحِمِ

Wahai Tuhanku,
Anugerahi kedamaian dan keselamatan
Selama-lamanya
Pada sang kekasih-Mu : Ahmad
Ciptaan-Mu yang  terbaik dari semuanya
Berkat al Musthafa, sampaikan maksud-maksudku
Ampunilah dosa-dosa yang lewat
Wahai Yang Maha Mulia

Al-Musthafa, dialah sang kekasih
Pertolongannya diharap-harap
Bagi setiap kegelisahan yang memuncak

Do’a Pertobatan 2 

إِلَهِى لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً
وَلَا أَقْوَى عَلَى نَارِ الْجَحِيْمِ
فَهَبْ لِى تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبِى
فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ اْلعَظِيْمِ
ذُنُوْبِى مِثْلُ عْدَادِ الرَّمَالِ
فَهَبْ لِى تَوْبَةً يَا ذَالْجَلاَ لِ
وَعُمْرِى نَاقِصٌ فِى كُلِّ يَوْمٍ
وَذَنْبِى زَائِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِى
إِلَهِى عَبْدُ كَ اْلعَاصِىِى أَتَاكَ
مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَا كَ
وَاِنْ تَغْفِرْ فَأَ نْتَ لِذَاكَ أَهْلٌ
وَاِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاكَ
Wahai Tuhanku
Aku bukan orang yang pantas tinggal di surga-Mu
Tetapi aku juga tak sanggup di neraka-Mu
Anugerahi aku kemampuan kembali pada-Mu
Dan ampuni dosa-dosaku
Karena hanya Engkaulah
Satu-satunya yang bisa memberi ampun
dosa-dosa besar

Dosa-dosaku bak jumlah butir pasir di bumi
Anugerahi aku kemampuan kembali pada-Mu
Wahai Yang Maha Agung

Umurku berkurang setiap hari
Tetapi dosaku bertambah-tambah saja
Bagaimana aku sanggup menanggungnya

Wahai Tuhanku,
Hamba-Mu yang berdosa
Telah datang, telah datang
Mengakui begitu banyak dosa
Dan ia telah sungguh-sungguh meminta-Mu

Bila Engkau mengampuniku
Karena hanya Engkaulah yang bisa mengampuni
Tetapi bila Engkau menolakku
Kepada siapa lagi aku bisa berharap

Do’a (3) 
Pertobatan, Amal saleh dan Ilmu Yang bermanfaat
أَسْتَغْفِرُ اللهْ رَبَّ الْبَرَايَا    أَسْتَغْفِرُ اللهْ مِنَ الْخَطَايَ
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا نَافِعَا        وَوَفِّقْنِي عَمَلاً صَالِحَا

Aku mohon ampunan Tuhan
Dari segala kesalahan
Aku mohon ampunan Tuhan
Tuhan seluruh ciptaan-Nya
Tunjuki aku kerja yang baik
Tuhanku,
Tambahi aku pengetahuan yang berguna
Dalam berbagai kesempatan bersama Gus Dur, manakala diminta berdoa, beliau seringkali berdoa ini :

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً . إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Wahai Tuhan kami! Anugerahilah kami rahmat dari sisi-Mu dan tuntunlah kami pada jalan keselamatan.” (Q.S. al-Kahfi, [18]:10) dan diakhiri dengan do’a paling popular:

رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Wahai Tuhan, anugerahi kami kebaikan hidup di dunia dan kebaikan hidup di akhirat, dan lindungi kami dari siksa neraka”.(Q.S. Al-Baqarah, [2]:201).

Oleh: Husein Muhammad, Pengasuh Pesantren Dar al-Tauhid Cirebon, Jawa Barat
source
Read More...

Syaikh Abdul Jalil Qasim dan Ilham Seputar Rasulullah Saw.

Syaikh Abdul Jalil Qasim adalah seorang pemuka al-Azhar sekaligus Syaikh Thariqah Syadzuliyah yang sudah tidak asing lagi di hati para ulama Timur Tengah. Beliau lahir di Mesir pada tanggal 1 Agustus 1921 dan wafat pada tanggal 15 Mei 1998. Para sejarawan dan ilmuan al-Azhar menyebutkan bahwasanya Syaikh Abdul Jalil Qasim merupakan salah seorang hamba shalih yang senantiasa memperoleh ilham-ilham suci dari Allah Swt. seputar rahasia-rahasia Islam dan kemukjizatan al-Qur'an. Serpihan-serpihan ilham tersebut telah disusun dalam sejumlah buku dan dipersembahkan oleh sekelmpok ulama al-Azhar semisal Prof. Dr. Hasan Abbas Zaki, Syaikh Jaudah Qasim dan tokoh-tokoh terpercaya lainnya.

Nasab Syaikh Abdul Jalil Qasim bersambung sampai Rasulullah Saw. melalui Saidina al-Husain Ra. dan beliau menganut mazhab Syafi'i dalam fikih serta menekuni tasawuf dari Sidi Syaikh Abdul Fattah al-Qadhi Ra. melalui sebuah tarekat sufi masyhur yaitu Thariqah Syadzuliyah.

Dalam catatan ini penulis akan memaparkan beberapa ilham yang beliau peroleh seputar kepribadian Sang Rasul Islam, Baginda Nabi Muhammad Saw. baik diperoleh dalam mimpi maupun disaat jaga. Mari kita simak bersama dengan hati yang sehat dan bersahaja, bukan dengan akal yang terbatas dan tebal sekatnya.

Dalam kitab "Khawathir Ilhamiyah Haula al-Aqidah al-Islamiyah wa Sayidina Rasulillah Saw." Syaikh Abdul Jalil Qasim menyebutkan bahwa segala sesuatu memiliki hati. Hati al-Qur'an adalah surat Yasin. Hati surat Yasin adalah ayat "Salamun qaulan min Rabbin Rahim". Artinya, al-Qur'an adalah seluruh jagad raya ini. Hatinya adalah Rasulullah Saw. Beliau adalah sumber kehidupan jagad raya ini sebab jasad menjadi hidup karena adanya hati. Beliau lah asal wujud semua ini. Beliau adalah cahaya kasih sayang Ilahi.

Syaikh Abdul Jalil Qasim menambahkan bahwa segala sesuatu tercipta dari maupun untuk cahaya Rasulullah Saw. Dan oleh karena beliau adalah cahaya, maka beliau dapat melihat dengan jelas di ruang yang gelap gulita sekalipun. Beliau tidak memerlukan cahaya karena segala cahaya tak seterang diri beliau. Dan selepas meninggal dunia, beliau masih hidup di dalam kubur dan memberikan pertolongan kepada hamba-hamba yang memohon. Jangankan selepas wafat, sebelum lahir pun beliau sudah banyak menolong para nabi dan rasul terdahulu, seperti Nabi Adam hingga diterima taubatnya oleh Allah, Nabi Yunus hingga bebas dari penjara ikan paus, Nabi Ibrahim hingga selamat dari panasnya api, semua itu karena pertolongan Nabi Besar Muhammad Saw.

Selanjutnya, Syaikh Abdul Jalil Qasim menjelaskan bahwa Rasulullah Saw. pernah mengatakan bahwa setiap rasa sakit yang diderita umat, pasti dirasakan pula oleh beliau. Karena beliau mengenal betul setiap orang dari umatnya, mendengarkan selawat mereka dan menjawab salam mereka. Tidakkah menjawab salam hukumnya wajib? Tentulah beliau tidak ketinggalan hal itu. Dan jangan heran, wali saja bisa berwujud 40 jasad di banyak tempat dalam satu waktu, apalagi Rasulullah..!!

Syaikh Abdul Jalil Qasim berikut mengemukakan bahwa Rasulullah Saw. adalah ciptaan Allah yang pertama, sebab beliau adalah kasih sayang bagi semesta alam, dan kasih sayang Allah telah mendahului murkanya serta meliputi segala sesuatu di jagad raya, itulah Rasulullah Saw. yang senantiasa meraih selawat dari Allah Swt. dan para malaikat. Nabi Adam pun mengawini Siti Hawa dengan mahar selawat kepada Baginda Nabi Muhammad Saw. Demikian instruksi yang diperoleh Nabi Adam As. dari malaikat yang telah mengenal keagungan Nabi Muhammad 1000 tahun sebelum mengenal Nabi Adam As.

Syaikh Abdul Jalil Qasim juga menceritakan, di saat isra' mi'raj, Rasulullah Saw. telah naik ke Tuhan dengan jasad suci beliau, dan juga jubah serta terompah beliau. Beliau telah menguasai ilmu Lauh Mahfuz serta ilmu al-Qalam, dan sepanjang jalan beliau melihat dengan penglihatan Allah dan mendengar dengan pendengaran Allah sebagaimana yang termaktub dalam ayat pertama surat al-Isra'. Selanjutnya, sesampai di puncak, beliau melihat Allah dengan mata hati sekaligus mata kepala. Kalau ilmu Lauh Mahfuz dan ilmu al-Qalam telah dikuasai Rasulullah, dan kalau Allah Swt. telah disaksikan beliau dengan mata hati dan mata kepala sekaligus, maka sudah 100% pasti ilmu-ilmu di bawahnya sangatlah kecil dan gampang bagi beliau, apalagi ilmu-ilmu manusia biasa; kimia, kedokteran, komputer, internet, dll. Keagungan ini bila diresapi, sungguh tidak ada ujungnya. Sangat mustahil bagi akal untuk menjangkaunya.

Kita adalah manusia-manusia biasa. Tentu akal kita sangatlah terbatas. Tak sepatutnya Rasulullah Saw. disamakan dengan kita. Jangankan beliau dan para nabi yang lain, para wali saja sudah luar biasa dan jauh berbeda dengan kita-kita. Lihat Sidi Syaikh Ibrahim al-Dusuqi Ra. yang telah menyelamatkan ibunya dari gangguan laki-laki iseng jauh sebelum ia lahir, bahkan sebelum ibu dan bapaknya menikah. Para nabi dan wali adalah hamba-hamba pilihan dan kesayangan Allah, sedang Allah Maha Kuasa atas segala-galanya!. Demikian papar Syaikh Abdul Jalil Qasim yang sejak tahun 1950 sudah mengajar di universitas al-Azhar.

Syaikh Abdul Jalil Qasim juga menekankan dan menegaskan bahwa cinta kepada Rasulullah Saw. akan terealisasikan melalui cinta kepada Ahlul Bait, sebab Rasul sendiri menyatakan bahwa Ahlul Bait adalah sumber kenyamanan bagi seluruh penghuni bumi. Khususnya Siti Fathimah Ra. sebagai wanita termulia di antara seluruh wanita jagad raya, termasuk Siti Maryam. Sebab Siti Maryam terpilih sebagai wanita satu-satunya yang melahirkan tanpa melewati hubungan suami isteri, sementara Siti Fathimah adalah puteri kesayangan Sang Junjungan Alam, Baginda Nabi Besar Muhammad Saw.

Begitu juga dengan Saidina al-Husain Ra. yang merupakan buah hati Rasulullah Saw. Maka buah cinta kepada Rasul adalah cinta sedalam-dalamnya kepada Saidina al-Imam al-Husain. Pantas saja Rasulullah mengumumkan bahwa Allah sangat mencintai hamba yang mencintai Imam al-Husain.

Banyak lagi petuah-petuah mulia dari Syaikh Abdul Jalil Qasim yang diperoleh melalui ilham-ilham suci baik dalam mimpi maupun di saat jaga. Setiap kali beliau mendapat ilham, beliau segera menulisnya dan meyerahkannya kepada Syaikh Ahmad al-Syabakah agar ditulisnya kembali dengan tulisan yang lebih bagus. Pembaca yang budiman, mari kita buka bersama lembaran hidup baru yang putih nan bersih, untuk kita ukir sebaris dua baris cinta kepada Rasul, Ahlul Bait dan para kekasih Allah yang menjadi sumber ketentraman kita dari dunia sampai akhirat.

Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, MA.

http://www.aziznawadi.net/catatan/qasim.html

Read More...

Al-Habib Abdurrahman Wahid dan Kerendahan Hatinya

Al-Habib Abdurrahman Wahid dan Kerendahan Hatinya
Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, MA.

Sudah tidak bisa dipungkiri lagi, Gus Dur adalah sang guru bangsa yang lebih mencintai bangsanya daripada dirinya sendiri. Toleransi, moderatisme, kedamaian, demokrasi, keadilan, dan masih banyak lagi benih-benih mulia yang ditebarkan Gus Dur -tanpa pamrih- di Tanah Air dan dunia. Jasa-jasa agung Gus Dur tidak hanya dirasakan warga Nahdliyin dan umat Islam saja, tapi juga dinikmati umat manusia di seluruh penjuru dunia, dari berbagai suku, ras, dan agama. Tentunya orang-orang yang beraliran beku dan keras saja yang berbeda dengan beliau. Jutaan pena telah menulis fakta mengagumkan ini, terlalu boros dan membuang waktu jika penulis masih memperkenlkan Sang Gus Dur ke para pembaca. Namun, satu hal yang sangat menarik dan cukup jarang dilirik para pecinta Gus Dur adalah, disamping berdarah biru, ternyata -menurut sejumlah sumber akurat- beliau juga seorang habib yang berdarah suci. Nasab beliau bersambung hingga Rasulullah Saw. melalui Imam al-Husain Ra. Suatu keistimewaan yang tak biasa, namun itu pulalah keluarbiasaan Habib Abdurrahman Wahid yang sama sekali tidak suka memamerkan siapa dirinya!.

Tidak sedikit golongan habaib yang nampak sangat fanatik terhadap nasabnya; selalu berpenampilan habib (Arabis) dan lebih mendahulukan sesama habibnya dalam setiap kepentingan sosialnya, terutama dalam hal pernikahan; masih sering dianggap tabu apabila sang syarifah menikah dengan yang bukan habib. Ironisnya, fanatisme itu terkadang lebih menonjol dari orang-orang keturunan Arab yang bukan habaib / alawiyyin (keturunan Rasul) tapi sekedar qabail (keturunan para sultan dan angkatan bersenjata Arab kuno) saja. Memang amat sangat baik memelihara nasab yang mulia, akan tetapi Sang Habib Abdurrahman Wahid, seperti yang kita kenal, toleransi beliau sungguh luar biasa!.

Keturunan darah yang suci tidak selalu menjamin kesucian seseorang tanpa mengikuti jejak-jejak suci yang dituntun Sang Baginda Yang Suci. Itulah yang sangat dipahami Habib Abdurrahman Wahid yang selalu benar memehami sejarah. Sejarah Nabi Adam dan Nabi Nuh sudah terlalu cukup untuk dipelajari agar tidak berlebihan mengandalkan nasab. Bahkan Rasulullah Saw. sendiri mengajarkan cucu-cucu beliau agar tidak fanatik terhadap nasabnya. Syarifah (keturunan Quraisy) Zainab binti Jahsy beliau nikahkan dengan Saidina Zaid bin Haritsah yang bukan habib. Syarifah Fathimah binti Qais beliau nikahkan dengan Saidina Usamah bin Zaid yang bukan habib. Saidina Bilal bin Rabah yang bukan habib (keturunan Quraisy) menikah dengan saudarinya Habib Abdurruhman bin Auf. Bahkan putri Rasulullah Saw. sendiri dinikahkan secara resmi dengan Saidina Utsman bin Affan yang keturunan Abdu Syams. Habib Ali bin Abi Thalib suami Syarifah Fathimah az-Zahra' pun menikahkan putri beliau Syarifah Ummu Kultsum dengan Saidina Umar bin al-Khatthab yang bukan habib. Semua itu karena Rasulullah Saw. sendiri berpesan "Pilihlah pasangan hidup karena agamanya, maka itu sudah cukup bagimu". Adapun harta, kecantikan / kegantengan, dan keturunan, itu nomor sekian!.

Di kesempatan lain Rasulullah Saw. juga menegaskan: "Tiada kemuliaan bagi orang Arab dihadapan orang luar Arab kecuali dengan takwa". Sabda inipun dipahami dengan baik dan benar oleh Habib Abdurrahman Wahid yang sangat prihatin terhadap fenomena Arabisasi di Indonesia. Padahal, beliau yang tulen keturunan Arab bahkan keturunan manusia tersuci sejagat raya pun biasa-biasa saja; tidak suka mengayunkan sorbannya dihadapan umat jelata, dan dihadapan umat non-muslim pun tetap tampil toleran dan sederhana.

Habib Abdurrahman Wahid juga sadar bahwa tidak hanya silsilah nasab legal yang membuat seseorang menjadi habib. Lagi-lagi Habib Abdurrahman Wahid adalah penguasa sejarah. Saidina Shuhaib, Saidina Salman, Saidina Bilal, dan juga sahabat-sahabat lain yang sama sekali bukan keturunan Hasyim dan Quraisy ternyata resmi meraih gelar habib langsung dari Rasulullah Saw., sebab kehabiban bukan hanya diperoleh melalui silsilah nasab, akan tetapi lebih pasti diraih melalui keimanan dan ketakwaan, karena seseorang yang bertakwa telah mengikuti jejak Rasul sehingga disebut al yang artinya cenderung, maka Alul Bait adalah orang-orang mulia karena selalu cenderung pada jejak Rasul. Al-Qur'an juga menegaskan bahwa putra Nabi Nuh yang 100% berdarah ayahnya, ternyata tidak pantas dikatakan al atau ahl-nya karena tidak mengikuti jejaknya. Allah berfirman: "Sesungguhnya ia bukan dari keluarga (ahl)-mu, karena apa yang ia lakukan bukanlah perbuatan yang mulia".

Di negeri Mesir saja, sebuah tanah Arab yang dipenuhi makam-makam Ahlul Bait, para habaibnya (di Mesir dujuluki dengan Asyraf) tidak selalu memakai jubah dan sorban sebagaimana yang nampak di negeri asing seperti Indonesia. Sayyid Mahmud Ahmad Husain as-Syarif sebagai Ketua habaib se-Mesir pun begitu gagah menampilkan kelapangan dada dan pikirannya dengan senantiasa berjas, berdasi, dan tanpa menutupi kepalanya. Ketua habaib se-Mesir itu seakan mengingatkan bahwa habib yang budiman adalah yang menghargai budaya setempatnya, bukan yang memamerkan budaya Saudi dan Yaman di setiap negara asing yang dikunjunginya!.

Habib Abdurrahman Wahid yang lebih akrab disapa Gus Dur juga lahir dari keturunan yang sangat berpengaruh di zamannya. Dikabarkan bahwa dari garis ibu, leluhur Habib Abdurrahman Wahid adalah dari keturunan Cina yang bermarga Tan, yaitu Tan Kin Ham, seorang panglima perang yang membantu Raden Patah mengalahkan kerajaan Majapahit, yang dikenal juga dengan nama Syaikh Abdul Qodir as-Shini yang dimakamkan di Trowulan Mojokerto Jawa Timur. Ada juga sumber menyatakan bahwa Habib Abdurrahman Wahid adalah keturunan dari Sunan Kalijaga dan Syaikh Siti Jenar. Konon Sunan Kalijaga menikah dengan putrinya Syaikh Siti Jenar, dan dari pernikahan itulah leluhur Habib Abdurrahman Wahid dilahirkan. Namun pada silsilah nasab yang sampai kepada Rasulullah Saw., Habib Abdurrahman Wahid adalah keturunan Jaka Tingkir dan Sunan Giri.

Walhasil, Habib Abdurrahman Wahid adalah manusia berdarah luar biasa. Tak heran mengapa beliau menjadi pahlawan bangsa sekaligus ulama terkemuka yang juga luar biasa. Namun itulah kerendahan hati seorang habib yang sesungguhnya, sehingga orang-orang awam tidak mudah mendeteksi kemuliaannya!.

Umat merindukanmu, Habib!.

source : http://www.aziznawadi.net/catatan/habib.html
Read More...

Gusdur Bisa Berbicara dengan Arwah

JOMBANG – Kiprah tiga sahabat almarhum Abdurrahman Wahid di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, belum banyak terekspos. Padahal bila berkunjung ke Jombang, Gus Dur selalu meminta nasihat dari tiga orang ini.

Tak hanya sebagai teman berdiskusi, tiga ulama itu dikabarkan memiliki kemampuan menjadi perantara Gus Dur untuk bertemu dengan arwah kakeknya, pendiri organisasi Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari.

Mereka adalah KH Hakam Khaliq, KH Ishaq Latif, dan KH Hasyim Karim. “Setiap Gus Dur datang ke Jombang untuk berziarah ke makam KH Hasyim Asy’ari, tiga orang ini pasti menemani,” ujar pengurus Pesantren Tebuireng, Misbahul Munir, Senin (4/1/2010).

KH Hakam dan KH Hasyim Karim merupakan sepupu Gus Dur. Sementara KH Ishaq merupakan salah satu staf pengajar di Pesantren. “KH Hakam dikenal sebagai ahli ilmu kebatinan. Ada pun KH Ishaq merupakan pakar ilmu tata Bahasa Arab. Sedangkan Gus Aying (KH Hasyim Karim) ahli di bidang politik,” ungkapnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, setiap kali ke Jombang, Gus Dur pasti bertemu ketiga orang ini. Mereka pun selalu mendampingi Gus Dur saat menggelar ritual di pusara pendiri NU.

Usai berziarah, mereka pun selalu berdiskusi di rumah KH Hasyim Asy’ari. Kabarnya ketiga orang ini yang membantu Gus Dur berkonsultasi dengan arwah KH Hasyim As’ari. “Kalau dengan keluarga di sini, Gus Dur cuma ngobrol-ngobrol sebentar,” ujar Misbahul.

Gus Hakam ketika dikonfirmasi mengaku selalu dihubungi Gus Dur apabila berada di Jombang. “Bahkan kalau ziarah ke mana pun, saya biasanya diminta mendampingi,” ungkap Misbahul.

Mentor Madrasatul Quran Pesantren Tebuireng, KH Mustain Syafi’i membenarkan bahwa ketiga orang tersebut merupakan sahabat dekat Gus Dur. Mereka senantiasa mendampingi Gus Dur berziarah ke makam KH Hasyim Asy’ari. “Biasanya pada tengah malam,” tandas Misbahul.

http://news.okezone.com/read/2010/01/04/337/290508/gus-dur-bisa-bicara-dengan-arwah-hasyim-asy-ari
Read More...

Makam Mbah Wahab Hasbullah Menebar Bau Harum

JOMBANG- Fenomena masih utuhnya jasad dan kain Kafan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ternyata juga pernah dialami oleh tokoh pendiri Nahdatul Ulama (NU), KH Wahab Chasbulloh.

Makam Mbah Wahab di Dusun Gedang, Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang itu pernah menebar bau harum. Tepatnya 15 hari setelah pemakaman.

Hal itu diceritakan oleh Toha Maksum, Mantan Sekretaris I Pengurus Cabang Nahdotul Ulama (PCNU) Kota Surabaya ketika berziarah ke makam Gus Dur di Ponpes Tebuireng. Toha mengaku, kejadian itu ketika dirinya masih ‘nyantri’ di Ponpes Tambakberas. Saat itu makam Mbah wahab ambles. Meski sudah 15 hari terkubur kain kafannya tetap utuh. Anehnya, waktu itu makam Mbah Wahab menebarkan bau harum.

“Hanya saja, waktu itu tak banyak yang tahu hanya tiga orang santri. Saya dan dua santri lainnya. Setelah mengetahui hal itu ia kemudian melaporkan ke keluarga pondok dan langsung menutupi makam Mbah Wahab,” kata Toha, Sabtu (19/2/2011).

Menanggapi fenomena jasad dan kain kafan Gus Dur masih utuh, pria asal Benowo, Surabaya itu mengaku sempat takjub. Namun dengan melihat sepak terjang Gus Dur semasa hidup dan yang disebut sebagai seorang Walliyulloh tentunya bisa diyakini kebenarannya. Toha sendiri merupakan salah satu dari jutaan pengagum mantan Presiden RI ke IV itu.

Ia menceritakan, kekagumannya dibuktikan ketika Gus Dur dilengserkan dari kursi Presiden pada 2001 silam. Saat itu ia nekad berangkat ke Jakarta untuk membela tokoh yang dikaguminya. Toha tak rela Gus Dur dilengserkan. Sementara kedatangannya ke Makam Gus Dur kali ini karena penasaran dengan kabar tersebut.

“Alhamdulillah, sampai di Tebuireng amblesnya makam Gus Dur sudah diperbaiki. Rencananya sore ini saya langsung balik ke Surabaya,” tambah Ma’sun.

http://news.okezone.com/read/2011/02/19/340/426502/makam-pendiri-nu-juga-pernah-menebar-bau-harum
Read More...

Tukar Link Otomatis

Sangpecinta: www.facebook.com/anti.wahabi ::: Santun Menyejukkan:::

video

no video list

Labels

Alam (1) Berita Dunia (3) Berita Unik (3) Blog (1) Browser (1) Do'a (1) Dunia Pendidikan (1) FPI (14) Facebook (2) HTI (2) Hukum (9) Humor (3) Kasus (2) Kesehatan (1) Kisah (3) Maqam Kekasih Allah (1) NU (4) Politik (1) Sejarah (1) Sholat (1) Software (5) Sufi-Thoriqoh (1) Teknologi (5) Terorrist (1) Tokoh (5) Tragedi (2) Trik Facebook (2) Trik Unik (1) Ulangan Semester (6) Wahabi (17) Wali Quthb (5)

Posting Terbaru

Menu Blog

Posting Populer

Arsip Blog

Top Comments